Anda berada di mode pratinjau.
| | |

Portal Tanggap Cepat “Jaringan Informasi Penanggulangan Bencana”, Jaringan Situs Online tentang Kegiatan dan Kebijakan Penanggulangan Bencana di Indonesia.

694

694 - Portal Tanggap Cepat “Jaringan Informasi Penanggulangan Bencana”, Jaringan Situs Online tentang Kegiatan dan Kebijakan Penanggulangan Bencana di Indonesia.


Nomor:
694

Inisiator:
JTC Jogja Tanggap Cepat

Organisasi:
JTC Jogja Tanggap Cepat

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Yogyakarta, DIY

Dana:
675 Juta Rupiah

Topik hibah:
Keadilan dan kesetaraan akses terhadap media

Masa Aktivitas:
Desember 2011 – Juni 2012

Deskripsi Proyek:
Portal Tanggap Cepat adalah situs online yang menyajikan rangkaian informasi dan panduan komprehensif seputar kegiatan dan kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia, baik dalam situasi pra bencana, tanggap darurat maupun pasca bencana.<br /> <br /> Sebagai sebuah jaringan, portal ini memprakarsai pengembangan kanal-kanal lokal, yang secara mandiri dikelola oleh komunitas lokal di berbagai daerah, yang saling berinteraksi dan berbagi informasi tentang kegiatan dan kebijakan penanggulangan bencana. Rangkaian konten dibangun berdasarkan partisipasi anggota komunitas sesuai dengan kebutuhan spesifik di wilayahnya.<br /> <br /> Secara bertahap, kanal lokal yang menjadi bagian jaringan ini akan dikembangkan di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Tahap awal, pengembangan akan difokuskan di 7 kota besar yang mewakili sebaran kelompok wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Ke-7 kota tersebut adalah: Medan, Padang, Bandar Lampung, Yogyakarta, Denpasar, Menado, dan Fakfak.<br /> <br /> Portal Tanggap Cepat mengelola 4 katagori informasi kebencanaan, yaitu: (1) Berita Kebencanaan; (2) Wawasan Kebencanaan; (3) Panduan Kebencanaan dan (4) Sistem Informasi Manajemen Bencana, sebuah sistem yang dipergunakan pada periode tanggap darurat atas peristiwa bencana di suatu wilayah tertentu.<br /> <br /> Kehadiran Portal Tanggap Cepat diharapkan mampu mengembangkan dan membina terbentuknya komunitas lokal yang melek informasi dalam kerangka sadar bencana, terlebih dalam situasi dimana Indonesia menjadi salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia.

Masalah yang ingin diatasi:
Indonesia menjadi salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Dalam setiap peristiwa kebencanaan yang terjadi selama ini, keterbatasan dan kesenjangan akses informasi menjadi salah satu masalah yang menghambat lancarnya upaya-upaya penanggulangan bencana.<br /> <br /> Informasi kebencanaan, khususnya informasi spesifik yang sesuai dengan kondisi lokal wilayah rawan bencana, belum secara optimal dipersiapkan ketersediaannya sebagai bagian dari upaya penanggulangan bencana yang dilakukan secara terencana, terkoordinasi dan terpadu. Karena itulah, pada saat dibutuhkan, ketersediaannya juga belum secara komprehensif mampu memenuhi kebutuhannya di setiap tahapan bencana.<br /> <br /> Adapun jenis informasi yang idealnya tersedia di setiap tahapan kebencanaan adalah:<br /> <br /> Pra Bencana: Informasi menyangkut aspek rencana penanggulangan bencana, pengurangan resiko dan pencegahan bencana, kesiapsiagaan, peringatan dini, mitigasi bencana, dsb.<br /> <br /> Tanggap Darurat: pengkajian situasi dan kondisi bencana, status darurat bencana, penyelamatan dan evakulasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kelompok rentan, pemulihan prasarana dan sarana vital, dsb.<br /> <br /> Pasca Bencana; Informasi yang terkait dengan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Permasalahan tersebut dapat diatasi atau diminimalisasi dengan upaya pengembangan sistem informasi kebencanaan dan proses diseminasi informasi kebencanaan yang dilakukan secara terencana, terkoordinasi dan terpadu.<br /> <br /> Upaya ini telah mulai dirintis dan dikembangkan di Kota Yogyakarta oleh JTC Jogja Tanggap Cepat menuju terciptanya jaringan informasi penanggulangan bencana di tingkat nasional. Adapun tahapan berikutnya yang perlu dilakukan adalah:<br /> <br /> 1. Sosialisasi dan asistensi pembentukan kanal-kanal lokal di wilayah lain di seluruh Indonesia, yang dikelola secara kolektif dan mandiri sebagai bagian dari keseluruhan jaringan informasi penanggulangan bencana.<br /> 2. Pelatihan media komunikasi dan manajemen informasi kebencanaan sebagai upaya pengembangan kapasitas relawan khusus di bidang informasi yang akan mengelola setiap kanal lokal.<br /> 3. Asistensi penyusunan sistem informasi kebencanaan dan pengelolaan proses diseminasi informasi kebencanaan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan di setiap wilayah.<br /> 4. Asistensi upaya mandiri pembentukan jaringan informasi di tingkat yang lebih rendah (kabupaten dan / atau kota ).<br /> Yang diuntungkan:<br /> Di setiap wilayah, proyek ini akan memberikan keuntungan bagi:<br /> <br /> 1. Pemerintah Daerah (sebagai pengambil keputusan dan kebijakan dalam proses penanggulangan bencana).<br /> 2. Masyarakat Lokal (Masyarakat setempat yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan potensi bencana / terkena dampak bencana)<br /> 3. Masyarakat Umum (masyarakat di luar wilayah pengembangan, yang secara asasi berhak memperoleh informasi publik sekaligus memiliki hak dan kewajiban berpartisipasi dalam proses penanggulangan bencana)<br /> 4. Media Massa (Sebagai penghubung distribusi informasi kebencanaan kepada masyarakat umum).

Ukuran kesuksesan:
Secara umum, kesuksesan proyek ini akan terukur dari kualitas dan kuantitas partisipasi komunitas lokal dalam kegiatan dan kebijakan penanggulangan bencana di wilayahnya, khususnya dalam bidang informasi kebencanaan. Secara kuantitatif akan diukur dari terbentuknya kanal-kanal lokal yang menjadi bagian dari jaringan informasi penanggulangan bencana. Secara kualitatif akan diukur dari:<br /> <br /> 1. Kemandirian di tingkat lokal untuk berpartisipasi dalam jaringan informasi penanggulangan bencana ini;<br /> 2. Aktifitas setiap kanal lokal dalam pembentukan jaringan dibawahnya di tingkat kabupaten dan / atau kota;<br /> 3. Interaksi dan lalu lintas informasi antar portal lokal dalam jaringan; dan<br /> 4. Perannya yang teruji dalam suatu peristiwa kebencanaan, baik yang langsung terjadi di wilayahnya, maupun partisipasi dalam peristiwa bencana yang terjadi di luar wilayahnya.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas