Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

632 - Literasi Media Berbasis Lokalitas untuk Media Baru Bagi Generasi “Z”


Nama Inisiator

Rini Damastuti

Organisasi

Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana

Topik

Pemantauan Media

Deskripsi Proyek

Media baru (internet, facebook, twitter dan media lainnya) banyak diakses oleh generasi Z (gen-Z), yaitu generasi muda yang hidup pada tahun 2000-an. Generasi yang hidup pada era ini memiliki kecenderungan selalu melibatkan media baru dalam setiap kegiatan di kehidupan mereka. Bahkan bisa dikatakan, generasi ini tidak dapat dipisahkan dengan Media baru. Sayangnya, informasi yang diberikan oleh media baru tidak selalu memberikan dampak positif tetapi juga memberikan dampak negatif.
Sementara pengawasan terhadap gen-Z dalam menggunakan media baru masih sangat kurang. Ada beberapa penyebab kurangnya pengawasan terhadap gen-Z dalam menggunakan media baru, yaitu:
1. Tidak ada waktu. Pengawasan terhadap gen-Z yang seharusnya dilakukan oleh orang tua maupun dari sekolah dan lingkungan tidak bisa dilakukan 24 jam penuh.
2. Ketidaktahuan orang tua terhadap media baru. Ketidaktahuan ini menyebabkan orang tua tidak dapat mengawasi gen-Z dalam menggunakan dan mengakses media baru, bahkan sering dikelabuhi oleh gen-Z.
3. Tidak ada infrastruktur untuk mengawasi aktivas penggunaan media baru.

Berdasarkan fenomena diatas, maka dibutuhkan pemikiran tentang model media literasi berbasis lokalitas untuk media baru bagi gen-Z. Berbasis lokalitas, dengan pemikiran bahwa model media literacy yang dihasilkan adalah media literacy yang sesuai dengan karakter dan budaya masyarakat dimana program media literacy itu akan diterapkan.

Masalah yang Diangkat

Tingginya penggunaan media baru oleh gen-Z tanpa adanya sistem pengawasan yang ketat, ternyata membawa efek yang sangat besar dalam kehidupan mereka. Efek yang dimunculkan bukan hanya efek positif, tetapi juga efek negative. Oleh karena itu, dibutuhkan prototype media literasi berbasis masyarakat lokal untuk media baru bagi gen-Z serta aplikasi dari model yang akan dibuat.
Dari latar belakang ini, yang menjadi tujuan dari proyek ini adalah:
1) Mendiskripsikan dampak positif dan dampak negative dari penggunaan media baru pada generasi Z di kota-kota besar di Jawa Tengah yang sering menggunakan dan mengakses internet (Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo). 2) Membuat Prototype media literacy berbasis masyarakat local (lokalitas). 3) Mensosialisasikan prototype media literacy kepada pemerintah dan masyarakat di Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo dan melakukan evaluasi serta penyempurnaan model. 4) Menerapkan model media literacy berbasis masyarakat local (lokalitas) di Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo.

Solusi

Ada beberapa langkah yang akan dilakukan oleh tim untuk mengatasi permasalahan tersebut:
1) Melihat dampak yang muncul pada gen-Z akibat penggunaan media baru dengan cara melakukan observasi dan wawancara secara langsung kepada generasi Z yang ada di Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo. 2) Melakukan FGD dengan orang-orang yang tertarik dengan kajian media literasi dalam rangka mendapatkan masukan dan gambaran media literasi berbasis lokalitas untuk media baru. 3) Memetakan prototype media literasi berbasis lokalitas. 4) Mensosialisasikan model media literacy berbasis lokalitas pada gen-Z dan melakukan evaluasi dalam rangka menyempurnakan model. 5) Menerapkan model dan melihat dampak serta hasil dari penerapan model ini.

Yang diuntungkan dari proyek ini meliputi adalah:
1) Generasi-Z, yaitu anak-anak yang pada saat ini berusia antara 13-18 tahun (SMP dan SMA ) yang ada di Jawa Tengah, terutama anak-anak yang ada di kota besar (Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo ) yang selalu mengkonsumsi internet. Dengan adanya model media literacy ini, maka perilaku gen-Z dalam menggunakan internet dan media baru tidak akan merusak masa depan mereka. 2) Orang tua yang ada di Purwokerto, Semarang, Salatiga dan Solo. 3) Pemerintah.

Target

"1. Generasi-Z, yaitu anak-anak yang pada saat ini berusia antara 13-18 tahun (SMP dan SMA ) yang ada di Jawa Tengah, terutama anak-anak yang ada di kota besar (Purwokerto, Semarang, Salatiga, dan Solo ) yang selalu mengkonsumsi internet. Dengan adanya model media literacy ini, maka perilaku gen-Z dalam menggunakan internet dan media baru tidak akan merusak masa depan mereka.
2. Orang tua yang ada di Purwokerto, Semarang, Salatiga dan Solo
3. Pemerintah. "

Indikator Sukses

1) Anak-anak yang menjadi subyek penelitian menggunakan internet sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka sebagai pelajar. 2) Mereka menggunakan internet sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh masyarakat di tempat mereka berada. 3) Mereka bisa menggunakan internet dengan bijak.

Lokasi

Salatiga, Jawa Tengah

Dana yang Dibutuhkan

200 Juta Rupiah

Durasi Proyek

Januari 2012 – Desember 2013 (dua tahun)