Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

524 - ReddWatch.ORG: Meliput Hutan Mendorong Transparansi


Nama Inisiator

Veby Mega

Organisasi

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ)

Topik

Meretas batas - kebhinekaan bermedia

Deskripsi Proyek

Pemerintah Indonesia saat ini mengimplementasikan program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degration in Developing Country (REDD)+ dan program moratorium penebangan hutan. Sekitar 100 juta hektare hutan akan diselamatkan, sebagai bagian dari program penurunan emisi global. Beberapa proyek percontohan REDD+ di Sumatera dan Kalimantan sedang dikerjakan negara donor, dan komitmen dana hibah miliaran Dolar Amerika sudah disampaikan kepada Indonesia. Di sisi lain, program REDD+ ternyata bermasalah. Penetapan peta moratorium penebangan hutan tanpa tranparansi perizinan, praktik penetapan konsesi hutan yang tertutup, tumpang tindih penggunaan lahan hutan, ketiadaan pengakuan terhadap hak pengelolaan hutan oleh masyarakat adat, dan potensi korupsi dan kolusi yang sangat besar dalam penyaluran dana REDD+ adalah beberapa masalah besar yang dikhawatirkan masyarakat. Tanpa menyelesaikan masalah ini, maka REDD+ berpotensi konflik serta tidak didukung masyarakat. Padahal semua negara donor mensyaratkan REDD+ harus transparan dan didukung oleh masyarakat, terutama yang tinggal di dalam dan sekitar hutan dan tergantung dari kualitas ekosistem hutan. Proyek REDD+ dapat disimpulkan belum menerapkan tata kelola kehutanan yang baik (good forest governance). Jurnalis dapat membantu terwujudnya tata kelola kehutanan yang baik dalam proyek-proyek REDD+, dengan cara meningkatkan mutu pemberitaan melalui training, workshop dan bekerja bersama masyarakat dalam pengelolaan situs berita REDD+ yang independen dan dapat dipercaya.

Masalah yang Diangkat

Meskipun REDD+ sedang diimplementasikan oleh puluhan negara, dan melibatkan puluhan negara donor serta potensi dana hibah yang sangat besar, tetapi belum ada satupun situs REDD+ independen yang dikelola oleh para jurnalis. Kesenjangan ini menyebabkan situs-situs REDD yang dibangun oleh pemerintah dan lembaga penelitian serta lembaga swadaya masyarakat tidak independen, karena hanya menyuarakan isu-isu yang menjadi perhatian mereka dan umumnya fokus kepada proyek yang sedang mereka kerjakan. Akibatnya masyarakat dapat memperoleh informasi tidak jernih, kadang saling bertolak belakang dan bias. Masalah berikutnya adalah pemahaman yang kurang komprehensif dan mendalam dari para jurnalis terhadap REDD karena permasalahannya sangat kompleks dan bersifat teknis,yang membutuhkan jangka waktu tertentu untuk memahaminya.

Solusi

Ada tiga cara mengatasi permasalahan yaitu, Pertama, mengadakan pelatihan dan bengkel kerja yang intensif utnuk para jurnalis, editor, dan pewarta warga sekitar proyek REDD+, terutama fokus pada aspek tata kelola pemerintahan yang baik dan aspek teknis. Kedua, mengembangkan situs ReddWatch.ORG, sebagai situs berita independen tentang isu-isu tata kelola kehutanan yang baik, khususnya program REDD+. Situs ini akan menjadi situs berita REDD pertama di dunia yang dikelola wartawan. Sebagian berita berbahasa Inggris, untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, terutama negara donor, lembaga internasional, aktivis lingkungan dan peneliti. Situs akan dilengkapi fasilitas video dan audio untuk menampung beragam format berita, dan fasilitas penemu lokasi (GPS) untuk mengetahui lokasi hutan yang diberitakan. Ketiga, penyajian rekaman kondisi hutan dari seluruh Indonesia, berupa rekaman video berdurasi 3-5 menit, yang memuat kesaksian para jurnalis, pewarta warga dan pihak lain, terhadap kondisi hutan Indonesia, dan dapat menjadi bukti dan justifikasi para pengambil keputusan untuk mengambil kebijakan.

Target

180 jurnalis dan editor di sembilan provinsi yang menjadi proyek percontohan REDD+, dan 180 pewarta warga yang akan bekerja di bawah supervisi para jurnalis. Keuntungan tidak langsung akan dirasakan masyarakat di sembilan provinsi dan para pejabat daerah, pemerintah Indonesia, serta para aktivis lingkungan, dan pemerintah dari negara-negara donor karena mendapatkan informasi yang independen, dan dukungan data kondisi objektif hutan di seluruh Indonesia.

Indikator Sukses

"Pada akhir tahun pertama, minimal terdapat 1.500 orang yang setiap hari menerima newsletter tentang REDD+ dari situs ReddWatch.ORG, dan menjadi 4.000 orang pada akhir program ini. Para penerima adalah pejabat kementerian terkait REDD, para pejabat daerah, para aktivis LSM, wartawan, editor, dosen, peneliti, para pemimpin masyarakat adat, lembaga-lembaga internasional di sektor kehutanan dan perubahan iklim, negara donor, dunia usaha, dan masyarakat luas. Beberapa berita utama dari berita situs juga akan disebarkan ke media sosial seperti facebook, twitter, Google+ dan sebagainya.
Pada akhir program, situs ini dikunjungi oleh minimal 10 ribu orang per bulan yang berasal negara-negara yang menandatangani Protokol Kyoto.
Jumlah berita yang dihasilkan oleh para jurnalis yang mengikuti program ini minimal 25 berita pertahun, sedangkan pewarta warga menghasilkan minimal 12 berita per tahun. "

Lokasi

Jakarta Utara

Dana yang Dibutuhkan

-

Durasi Proyek

Januari 2012-Juni 2014 (2,5 tahun)