Anda berada di mode pratinjau.
| |

Peran Radio Komunitas sebagai Media Alternatif untuk Mengimbangi Arus Informasi yang Masuk ke Masyarakat

387

387 - Peran Radio Komunitas sebagai Media Alternatif untuk Mengimbangi Arus Informasi yang Masuk ke Masyarakat


Nomor:
387

Inisiator:
Flores Institute for Resources Development

Organisasi:
Flores Institute for Resources Development

Tanggal aplikasi:
16 September 2011

Lokasi:
Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Dana:
300 Juta Rupiah

Topik hibah:
Meretas batas – kebhinekaan bermedia

Masa Aktivitas:
Februari 2012-Maret 2013

Deskripsi Proyek:
Perkembangan teknologi informasi secara umum dipandang positif untuk membuka isolasi arus informasi yang masuk ke masyarakat, namun perkembangan teknologi tersebut ternyata menyisakan persoalan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal pedesaan. Akibat yang dirasakan adalah pola pikir serta pola tindak masyarakat berubah. Masyarakat cenderung berpikir pragmatis dan menjadi kelopmpok masyarakat konsumtif. Selain itu, nilai-nilai budaya lokal yang selama ini menjadi pilar utama/falsafah masyarakat ternyata semakin memudar dan berangsur-angsur hilang. Oleh karena itu, dalam proyek ini yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana mengembalikan filosofi masyarakat pedesaan dengan nilai-nilai budaya lokal sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari melalui perimbangan informasi melalui radio komunitas sebagai media alternatif. Selain itu, dalam proyek ini, pengelolaan radio komunitas tetap berbasiskan masyarakat pedesaan baik laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja serta tokoh masyarakat sebagai pengelola radio komunitas.

Masalah yang ingin diatasi:
1. Mensosialiasi kepada masyarakat tentang penting media alternatif sebagai perimbangan informasi yang masuk<br /> 2. Masyarakat pedesaan lebih termotivasi untuk menjadi bagian dari perencana, pelaksana, pengevaluasi terhadap hasil karya sendiri<br /> 3. Memotivasi masyarakat pedesaan lebih kreaatif dan lebih selektif terhadap arus informsi yang masuk<br /> 4. Masyarakat pedesaan tidak saja sebagai kelompok konsumsi informasi tapi harus menjadi kelompok produksi informasi<br /> 5. Sebagai alat untuk mengorganisir masyarakat pedesaan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya setempat

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Menjalankan program: 1. Sosialisasi tentang peran media serta media alternatif (diskusi, pertemuan, seminar) 2. Mendirikan radio komunitas termasuk mengurus akta radio (sebelumnya melalui workshop) 3. Mengadakan pelatihan bagi pengurus radio serta pembentukan struktur radio komunitas. 4. Menyusun program siaran (kampanye budaya serta adat isti adat: tarian, ritual adat, pakaian adat , alat musik, kampanye tentang pangan lokal serta bercocok tanam masyarakat lokal) melalui talk show, seta lagu-lagu daerah. 5. Membangun kemitraan dengan tokoh adat setempat, pemerintah desa melalui sebuah kesepakatan bersama dalam bentuk berita acara. Pihak yang diuntungkan adalah masyarakat 10-50 tahun desa Woloaro Kecamatan Lio Timur kabupaten Ende

Ukuran kesuksesan:
Terbentuknya satu paguyuban masyarakat pemerhati sosial dan budaya, 100 anak dan remaja yang cinta akan budaya setempat, semua masyarakat dapat mengakses informasi melalui radio, pemerintah desa dapat mengalokasikan dananya untuk radio komunitas melalui peraturan desa.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas