Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pengembangan Situs sebagai Alat Advokasi Hak atas Tanah dan Penghidupan Warga di Kebumen, Kulon Progo dan Bantul

377

377 - Pengembangan Situs sebagai Alat Advokasi Hak atas Tanah dan Penghidupan Warga di Kebumen, Kulon Progo dan Bantul


Nomor:
377

Inisiator:
Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan

Organisasi:
Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan

Tanggal aplikasi:
16 September 2011

Lokasi:
Kebumen

Dana:
180 Juta Rupiah

Topik hibah:
Kebebasan dan etika bermedia

Masa Aktivitas:
Januari – Desember 2012

Deskripsi Proyek:
Proyek ini adalah pengembangan penggunaan blog dan media jejaring sosial oleh FPPKS sebagai media penyeimbang melawan pembentukan opini negatif oleh media arus utama yang. Penggunaan situs dipilih karena sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas (tingkat dan keluasan partisipasi, kualitas dan kekayaan muatan, maupun keluasan jangkauan) media komunitas yang sudah ada dalam menyebarluaskan informasi yang obyektif kepada dunia luar. Ragam bentuk kegiatan (online dan offline) dan media (tulisan, foto, audiovisual dan video) akan digunakan dalam produksi informasi, sehingga juga memperkaya pengetahuan warga mengenai cara-cara menyuarakan persoalan dan memperjuangkan haknya.

Masalah yang ingin diatasi:
1. Keterbatasan akses warga terhadap media arus utama dalam rangka mengungkap kebenaran dan memperjuangkan hak-haknya, baik oleh faktor internal (rendah dan tidak meratanya penguasaan teknologi informasi) maupun faktor eksternal (belum terjangkaunya infrastruktur dan tekanan kekuasaan terhadap media arus utama sekalipun).<br /> 2. Kebutuhan mendesak (terkait masalah keamanan dan kebebasan) untuk mempercepat dan memperluas penyebaran informasi terkini mengenai situasi dan dinamika warga di daerah konflik dengan segala aspek kehidupannya.<br /> 3. Terbatasnya informasi bagi publik mengenai kehidupan warga di daerah konflik langsung dari sumber utamanya.<br /> 4. Sempitnya ruang (dari segi geografis dan ketersediaan media) bagi masuknya umpan balik, solidaritas dan kontrol dari publik terhadap perjuangan warga setempat.<br /> 5. Kebutuhan akan adanya media komunikasi kolektif antar komunitas yang berjauhan untuk menguatkan perasaan senasib sepenanggungan dan perjuangannya sendiri.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
1. Pelaksanaan lokakarya (workshop) dan pendampingan mengenai jurnalisme warga, penggunaan internet dasar, dasar-dasar multimedia dan etika media selama minimal 6 bulan untuk warga sasaran di 3 kabupaten untuk menghasilkan kontributor-kontributor utama dari warga setempat.<br /> 2. Pembentukan tim redaksi situs dengan komposisi mayoritas adalah warga setempat, sebagai pusat pengumpulan, verifikasi, pengolahan dan penyajian informasi yang berbasis di 3 kabupaten sasaran.<br /> 3. Pengadaan perangkat lunak dan keras untuk memproduksi informasi di 3 kabupaten sasaran yang akan dipublikasikan melalui situs.<br /> 4. Pembuatan situs yang menjadi media bersama warga berkonflik dari 3 kabupaten sasaran.<br /> 5. Memadukan kegiatan advokasi hak warga setempat atas tanah, permukiman dan penghidupan yang layak di 3 kabupaten sasaran, dengan situs sebagai porosnya.<br /> 6. Menyelenggarakan diskusi kelompok terarah tingkat pedukuhan di tiap kabupaten sasaran sebagai perangsang gagasan yang akan diolah menjadi muatan situs bersangkutan.<br /> <br /> Mereka yang diuntungkan adalah warga usia 17-40 tahun yang sedang mengalami konflik pertanahan dengan pemerintah dan atau investor di:<br /> 1. Kawasan pesisir Urutsewu di Kabupaten Kebumen<br /> 2. Kawasan tambang pasir besi di pesisir Kabupaten Kulon Progo<br /> 3. Kawasan wisata Parangtritis, Kabupaten Bantul

Ukuran kesuksesan:
1. Terlaksananya lokakarya dengan peserta minimal 15 orang warga setempat (usia 17-40 tahun, 8 laki-laki, 7 perempuan) di 3 kabupaten selama 6 bulan.<br /> 2. Terbentuknya tim redaksi beranggotakan minimal 10 warga setempat di tiap kabupaten.<br /> 3. Tersedianya fasilitas internet (hotspot) dan jurnalistik minimal 1 paket di setiap kabupaten, di pusat-pusat aktivitas warga berkonflik, dan pada lokasi yang mudah dijangkau, nyaman dan aman bagi warga setempat (misalnya sekolah, tempat ibadah, balai RT atau RW).<br /> 4. Tersedianya situs yang 50% pengelolanya adalah peserta lokakarya dan atau tim redaksi dari 3 kabupaten.<br /> 5. Keberlanjutan pembaruan muatan situs minimal 1 minggu sekali selama minimal 6 bulan sejak situs diluncurkan.<br /> 6. Masuknya pengelolaan situs sebagai agenda organisasi perjuangan warga di 3 kabupaten<br /> 7. Terselenggaranya diskusi kelompok terarah minimal di 3 pedukuhan untuk tiap kabupaten minimal 1 bulan sekali selama 6 bulan sejak situs diluncurkan.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas