Anda berada di mode pratinjau.
| | |

Gerakan Guru Digital

300

300 - Gerakan Guru Digital


Nomor:
300

Inisiator:
Medresa Foundation

Organisasi:
Medresa Foundation

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Bandung, Jawa Barat

Dana:
300 Juta Rupiah

Topik hibah:
Keadilan dan kesetaraan akses terhadap media

Masa Aktivitas:
Desember 2011 – Desember2012 (1 tahun) dan berkelanjutan

Deskripsi Proyek:
Sebuah proyek untuk mempromosikan percepatan dan adaptasi kultural penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) dikalangan guru. Program ini bersifat sosial, gratis dan diperuntukkan untuk para guru di sekolah. Kami mengambil bagian proaktif dengan mendatangi sekolah-sekolah untuk menawarkan program ini. Para guru akan diberikan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) selama 5 bulan untuk program dasar. Lima tahap yang akan dikembangkan pada program ini adalah:<br /> (i) Tahap kemampuan menggunakan TIK (ICT Skills)<br /> (ii) Tahap mengintegrasikan TIK dalam strategi pembelajaran di kelas dan kerja guru lainnya.<br /> (iii) Tahap memproduksi konten dengan mengintegrasikan kemampuan penggunaan TIK, strategi pembelajaran di kelas dan kerja guru lainnya, dan konten pada mata pelajaran yang spesifik<br /> (iv) Tahap adaptasi pada situasi pembelajaran dan kerja berbasis kolaboratif, partisipatif, dan distributif menggunakan platform e-learning dan social media<br /> (v) Tahap pembentukan dan penguatan komunitas guru pembelajar

Masalah yang ingin diatasi:
(1) Digital literacy divide yang dialami mayoritas guru: di lapangan, banyak guru yang belum memiliki ICT Skill, Information literacy, dan media literacy (ketiganya satu kesatuan tantangan guru di era digital)<br /> (2) Ketakadilan akses peningkatan skill guru terkait ICT. Meski dana pemerintah katanya besar, kenyataan lapangan menunjukkan banyak guru belum tersentuh konkret. Banyak pula sekolah ber-infrastruktur ICT cukup namun bingung/tidak tahu penggunaan fungsionalnya dalam pembelajaran dan pendidikan.<br /> (3) Banyak konten berbasis ICT diproduksi kalangan non-guru yang kerap kurang kontekstual dengan peserta didik, konten yang dijual mahal pihak luar sekolah, atau konten/tools berbasis proyek dari anggaran pemerintah namun tidak banyak berfungsi dan hanya menguntungkan segelintir pihak.<br /> (4) Tantangan perkembangan pesat ICT di abad digital: siswa masa kini -native digital generation- memiliki behavior yang sama sekali berbeda.<br /> (5) Guru banyak belum bisa memanfaatkan dan beradaptasi pada situasi pembelajaran dan kerja kolaboratif, partisipatif, dan distributif menggunakan media-media berbasis ICT dan internet terkini

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Nonstruktural, proaktif dengan datang langsung ke sekolah-sekolah secara berkelanjutan memberikan pelatihan dan pendampingan (lihat di deskripsi program). Kecuali di luar Jawa Barat, pelatihan akan dipadatkan dalam workshop beberapa hari bagi volunteer (TOT) sebagai kader #gurudigital untuk kemudian menyebarkan lagi pada para guru di wilayahnya masing-masing, membangun komunitas guru pembelajar berbasis ICT dan social media, mendorong guru sebagai pusat produksi konten berbasis ICT sehingga dapat dipakai secara tepat pada peserta didiknya masing-masing, membangun platform e-learning via http://alpha.medresalabs.com/ dan penggunaan tools social media lainnya untuk kerja kolaboratif, partisipatif, dan distributif, dan melakukan kerja sama sinergis dengan komunitas/individu pendidikan lainnya untuk saling akselerasi motivasi dan berbagi pengalama. Proyek ini akan memberi keuntungan kepada guru SD-SMA di 10 sekolah prototipe di wilayah Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat) dan TOT kader #gurudigital untuk kabupaten/kota di Jawa Barat. Juga ditargetkan TOT kader #gurudigital disetidaknya 5 wilayah luar Jawa Barat (termasuk luar pulau Jawa)

Ukuran kesuksesan:
(1) Survey pra-program bagi guru<br /> (2) Survey pasca program bagi guru<br /> (3) Kuantitas dan kualitas produksi konten pembelajaran dan penggunaan bagi pendidikan.<br /> (4) Penilaian kemampuan mengintegrasikan konten ICT dalam strategi pembelajaran di kelas dan kerja-kerja kolaboratif, partisipatif, dan distributif.<br /> (5) Survey akseptibilitas dari peserta didik<br /> (6) Kontinuitas pasca program dan kekuatan komunitas yang terbentuk.<br /> (7) Massifitas keterjangkauan dari sistem yang dibangun

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas