Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

257 - Membangun Jaringan Pengelola Jurnalisme Warga Indonesia


Nama Inisiator

Sloka Institute

Organisasi

Sloka Institute

Topik

Keadilan dan kesetaraan akses terhadap media

Deskripsi Proyek

Program ini akan mendorong terwujudnya sebuah jaringan antar-penggiat jurnalisme warga di Indonesia. Jaringan ini tidak bersifat formal dan mengikat, seperti aliansi atau asosiasi, namun lebih bersifat informal dan cair. Karena itu lebih tepat disebut jaringan atau forum. Dengan demikian setiap pengelola ataupun media jurnalisme warga tersebut akan tetap otonom dan independen. Tujuan program ini adalah terbentuknya jaringan antar-penggiat jurnalisme warga Indonesia yang diwakili oleh para pengelola media jurnalisme warga di berbagai kota, seperti Denpasar, Makassar, Solo, Depok, Jakarta, Medan, dan kota-kota lainnya di mana terdapat media jurnalisme warga. Media jurnalisme warga ini tidak termasuk pada media jurnalisme warga yang menjadi bagian dari media arus utama, seperti Kompasiana (Kompas), IMO (The Jakarta Post), dan semacamnya.
Agar jaringan tersebut bisa terwujud, maka akan dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) Penjajakan dilakukan untuk mengetahui peta, kekuatan, serta antusiasme para penggiat untuk berjejaring. (2) Diskusi terfokus akan dilakukan selain untuk memperkuat hasil asessment juga sebagai forum bertemunya penggiat jurnalisme warga di Indonesia. (3) Membangun mekanisme komunikasi jaringan melalui penggunaan blog, maupun jejaring sosial, seperti mailing list, Facebook, maupun Twitter. (4) Pengembangan jaringan melalui kegiatan-kegiatan di tingkat lokal ataupun secara nasional.
Output program ini adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan di atas. Adapun outcome program berupa adanya peta media jurnalisme warga Indonesia, jaringan pengelola jurnalisme warga, serta pertukaran informasi secara intensif sesama penggiat jurnalisme warga

Masalah yang Diangkat

Komunitas penggiat jurnalisme warga di Indonesia terus bertambah. Belum ada data resmi berapa jumlah blog, portal, atau website jurnalisme warga ini di Indonesia. Namun, TEMPO edisi April 2011 menulis bagaiaman jurnalisme warga ini kian tumbuh dan berpengaruh di Indonesia. Meski terus tumbuh, media jurnalisme warga dan para pengelolanya belum memiliki jaringan di Indonesia. Padahal, jaringan ini bisa berperan penting dalam pengembangan jurnalisme warga di Indonesia. Peran tersebut antara lain mengampanyekan, meningkatkan kapasitas jurnalis warga, maupun mengadvokasi kasus-kasu tertentu yang berhubungan dengan jurnalisme warga khususnya ataupun kebebasan informasi dan berekspresi secara umum.
Belum terdatanya media jurnalisme warga di Indonesia merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan jurnalisme warga di Indonesia. Tanpa data dan peta, misalnya jumlah media jurnalisme warga serta sebaran kotanya, maka upaya untuk membangun jaringan penggiat jurnalisme warga ini belum bisa dilakukan. Belum adanya jaringan penggiat jurnalisme warga di Indonesia juga menjadi tantangan untuk mengadvokasi kasus tertentu terkait dengan kebebasan informasi maupun kebebasan berekspresi di internet. Para penggiat jurnalisme warga belum terdengar suaranya karena belum memiliki forum agar bisa “bersuara” bersama-sama

Solusi

Agar jaringan tersebut bisa terwujud, maka akan dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) Penjajakan (assesment) dilakukan untuk mengetahui peta, kekuatan, serta tantangan pengembangan jurnalisme warga. Tahapan ini sekaligus mendata para pengelola media jurnalisme warga di Indonesia serta menjajaki kemungkinan untuk membangun jaringan penggiat jurnalisme warga di Indonesia.
(2) Diskusi terfokus (focus group discussion) akan dilakukan selain untuk memperkuat hasil penjajakan juga sebagai forum bertemunya penggiat jurnalisme warga di Indonesia. Melalui diskusi terfokus ini, para penggiat media jurnalisme warga di Indonesia bisa bertemu dan mendiskusikan langsung pengalaman, peluang dan tantangan yang selama ini dihadapi dalam pengembangan jurnalisme warga. Diskusi akan dilakukan di Denpasar Bali dengan mengundang para penggiat dari kota lain.
(3) Membangun mekanisme komunikasi jaringan melalui penggunaan blog, maupun jejaring sosial, seperti mailing list, Facebook, maupun Twitter. Blog atau website ini selain menjadi pusat informasi tentang jurnalisme warga di Indonesia juga akan menjadi aggregator (penyedot) materi-materi terbaru media-media jurnalisme warga di Indonesia. Adapun jejaring sosial berfungsi untuk bertukar informasi dari sesama penggiat jurnalisme warga.
(4) Pengembangan jaringan melalui kegiatan-kegiatan di tingkat lokal ataupun secara nasional. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong lahirnya media-media jurnalisme warga di berbagai daerah terutama yang belum memiliki media jurnalisme warga. Namun, bisa juga berupa kegiatan secara nasional dengan melibatkan jaringan dari berbagai daerah. Tujuannya lebih banyak untuk kampanye. Proyek ini akan memberi keuntungan kepada para penggiat jurnalisme warga di Indonesia dan para pengguna internet

Target

Para penggiat jurnalisme warga di Indonesia dan para pengguna internet

Indikator Sukses

Ukuran keberhasilan program ini adalah: (1) Adanya data base media jurnalisme warga di Indonesia meliputi data, peta, dan tantangannya. Data base ini berguna untuk menjadi referensi terkait perkembangan jurnalisme warga di Indonesia. (2) Terbangunnya saluran komunikasi sesama penggiat jurnalisme warga di Indonesia berupa blog ataupun jejaring sosial. Melalui sarana ini para penggiat media jurnalisme warga bisa bertukar informasi dan pengetahuan tentang jurnalisme warga khususnya ataupun jurnalisme dan kebebasan informasi secara umum. (3) Dilibatkannya jaringan penggiat jurnalisme warga di Indonesia secara nasional oleh pihak-pihak terkait dengan jurnalisme, misalnya bersama Dewan Pers, organisasi jurnalis, maupun media arus utama

Lokasi

Denpasar, Bali

Dana yang Dibutuhkan

400 Juta Rupiah

Durasi Proyek

Januari – Desember 2012 (1 tahun)