Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

202 - Perempuan Grass Root Mencipta Media untuk Suarakan Hak-haknya


Nama Inisiator

Mitra Wacana Woman Resource Centre Yogyakarta

Organisasi

Mitra Wacana Woman Resource Centre Yogyakarta

Topik

Meretas batas – kebhinekaan bermedia

Deskripsi Proyek

Proyek ini hendak mengembangkan kapasitas perempuan grassroot yang tergabung dalam dua kelompok Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A) di Kabupaten Banjarnegara yang bermitra dengan Mitra Wacana WRC sejak tahun 2009. P3A berperan sebagai media belajar bersama dan memecahkan berbagai persoalan ketidakadilan yang dialami perempuan dan anak melalui produksi dan transformasi informasi. Melalui produksi dan transformasi informasi yang dimulai dari memetakan dan menganalisa persoalan dan potensi yang ada dalam masyarakatnya sendiri, kedua kelompok ini tengah berupaya membangun kesadaran kritis masyarakat utamanya perempuan sebagai basis untuk menggerakkan mereka mengakses kesejahteraan dan keadilan. Proyek ini akan memfasilitasi perempuan yang tergabung dalam kedua P3A memperkuat kapasitas jurnalistiknya, melakukan pemetaan dan analisa mendalam -dengan gender sebagai pisau analisis- terhadap berbagai persoalan dan potensi sumber daya yang ada di lingkungannya, serta mengembangkan media promosinya guna menyuarakan hak-haknya. Pengembangan media promosi dilakukan melalui pembuatan koran selembar, pelatihan internet dan pembuatan portal

Masalah yang Diangkat

Saat ini tidak banyak perempuan grassroot yang mampu menyuarakan keadilan akibat kultur patriarkhi yang masih mengakar dalam masyarakat kita. Berbagai ketidakadilan yang dialami perempuan nampak pada tingginya angka kekerasan, kemiskinan, serta rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan perempuan. Sejarah membuktikan bahwa sejak pra kemerdekaan, perempuan Indonesia melalui media yang mereka ciptakan sendiri, mampu menyuarakan hak-haknya. Hal ini nampak pada surat-surat Kartini dan media perempuan yang terbit sejak masa colonial. Berbagai surat kabar perempuan yang terbit di era 1900an awal seperti Putri Hindia, Soenting Melayoe, Poetri Mardika, Panontoen Istri hadir menyuarakan hak perempuan mendapatkan pendidikan, berorganisasi, dan bahkan mengkritik keras kultur dan adat yang menghambat perempuan untuk maju. Pengalaman sejarah tersebut memberikan sinyal pentingnya kembali memberdayakan perempuan -setelah sekian lama “dibungkam”-untuk mampu menciptakan media guna menyuarakan hak-haknya dan berpartisipasi melakukan perubahan bagi masyarakatnya. Dengan media yang mereka ciptakan sendiri, perempuan akan mampu berkreasi dan menggunakan bahasa yang mudah diterima oleh masyarakatnya

Solusi

Beberapa metode yang hendak digunakan untuk mendorong perempuan menciptakan medianya sendiri guna mengakses keadilan adalah melalui (1)peningkatan kapasitas jurnalistik sebagai basis kapasitas menorehkan gagasannya; (2) diskusi tematik tentang kesetaraan dan keadilan gender yang diperdalam melalui refleksi dalam diskusi informal, sebagai basis pengayaan wacana dan memperkuat kesadaran kritis; (3) survey kampung sendiri, sebagai basis memetakan dan menganalisa persoalan, potensi, tantangan yang hendak dirumuskan menjadi gagasan perubahan; (4) koran selembar, sebagai media untuk mempublikasikan gagasan di lingkungannya; (5) training internet, agar perempuan mampu mengakses berbagai informasi sebagai referensi penguat serta menorehkan gagasannya secara lebih luas, terutama melalui portal. Pengelolaan portal akan digabungkan dengan “suara komunitas” yang merupakan portal komunitas pengelola radio komunitas di tingkat nasional. Harapannya, dengan bergabung, perluasan gagasan akan lebih optimal. Karena secara riil, pengakses portal ini relative banyak. Perempuan akan dapat menuangkan gagasan keadilan gendernya dan mendiskusikan hal-hal yang dipublikasikan oleh komunitas lain dengan perspektif gender melalui portal ini. Pihak yang diuntungkan adalah (1) perempuan yang tergabung dalam P3A Annisa Karangsaga, Badamita dan P3A Sutra Losari RW 07 Kelurahan Kutabanjarnegara Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah (2) Perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri di Dusun Karangsaga Desa Badamita dan di Kelurahan Kutabanjarnegara (3) masyarakat desa badamita dan Kelurahan Kutabanjarnegara (4) pengakses portal suara komunitastahun

Target

(1) Perempuan yang tergabung dalam P3A Annisa Karangsaga, Badamita dan P3A Sutra Losari RW 07 Kelurahan Kutabanjarnegara Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah (2) Perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri di Dusun Karangsaga Desa Badamita dan di Kelurahan Kutabanjarnegara (3) masyarakat desa badamita dan Kelurahan Kutabanjarnegara (4) pengakses portal suara komunitas

Indikator Sukses

Keberhasilan proyek ini dapat diukur dari meningkatnya kapasitas perempuan dalam P3A menuangkan gagasannya melalui media yang mereka ciptakan sendiri. Hal ini dapat dilihat dari kualitas tulisannya dan respon konsumen media tersebut. Terdapat dua riset kecil yang bisa digunakan untuk mengukur hal ini yakni (1) pre test dan pos test pada setiap training; (2) riset mengukur respon konsumen media. Dalam riset ini perempuan dalam komunitas P3A pencipta media akan dilibatkan, sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan

Lokasi

DI Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

285 Juta Rupiah

Durasi Proyek

Januari – Desember 2012 (12 bulan)