Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Salah Paham Terhadap Buruh I



Screen-Shot-2015-12-08-at-00.31.02-1024x563.png Gambar dikutip dari sumber (Brilio)

Bagaimana sebaiknya kita memandang gerakan buruh?

Dalam banyak kanal perbincangan di media sosial, kerap ada kesalahpahaman terhadap gerakan buruh. Satu hal yang paling sering muncul adalah kecurigaan apabila demonstrasi buruh hanya dilakukan untuk menuntut kenaikan nominal upah. Padahal ini kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari apabila pembaca mau sedikit berusaha mencari tahu.

Belakangan sentimen negatif soal buruh demikian hebat. Kelas menengah pekerja di kota, pada beberapa komentar di media sosial, melakukan kritik dan komentar pedas terhadap gerakan buruh. Ada tendensi superior dari kelas menengah ini yang berusaha menunjukan dirinya di atas buruh. Dalam kritiknya kelas menengah menganggap buruh hanya bisa demonstrasi meminta kenaikan upah, bukannya memperbaiki kualitas diri.

Beberapa yang lain menganggap bahwa gerakan buruh ini patut dikasihani. Kasihan, karena ulah demo buruh, ada kemungkinan buruh lain yang tidak ikut demonstrasi terancam dipecat. Ada pula yang mencibir sangat keras dan menganggap buruh tidak tahu diri karena demonstrasi kenaikan upah menggunakan motor ninja. Menurut mereka, kalo bisa membeli motor ninja, kenapa masih protes gaji kecil?

Buruh-Wajib-Penuhi-Hak-Pengusaha-PolRi-400x240.jpg

Sumber Facebook

Tapi tentu saja itu sah saja, setiap pendapat boleh diutarakan selama tidak memaksa yang lain. Namun sebelum menghakimi buruh, saya ingin mengajak anda untuk mencari dan mematahkan mitos-mitos tentang buruh yang banyak dipercaya. Tentu jika anda merasa lebih baik dari buruh, anda baiknya berhenti di sini, tak perlu dilanjutkan lagi. Saya ingin ajak anda untuk membedah satu demi satu tuduhan pada buruh dan bagaimana memahaminya secara lebih bijak.

Tuduhan pertama adalah dalam setiap demonstrasi buruh hanya bisa menuntut gaji tinggi. Anggapan ini separuh benar. Dalam banyak protes serikat buruh, kenaikan upah merupakan tuntutan yang paling sering diutarakan, namun bukan berarti ini selalu menjadi tuntutan utama para buruh. Di Malang misalnya, buruh memperjuangkan hak dasar seperti hak untuk mendapatkan cuti haid.

Bagi beberapa orang mungkin ini absurd, hak dasar seperti cuti hamil dan cuti haid kok diprotes? Namun memang demikian, ada perusahaan nakal yang tidak memberikan hak dasar pekerja. Salah satunya seperti di Karanganyar buruh menuntut pemberian cuti hamil dan hak tidak masuk karena sakit. Lain cuti hamil dan cuti haid, para buruh juga memperjuangkan hak dasar lain seperti pemberian uang lembur. Sesuatu yang bagi kelas pekerja di Ibukota adalah sesuatu yang biasa diberikan, tapi bagi buruh mesti diperjuangkan.

Tuduhan lainnya adalah buruh dalam mencapai keinginannya hanya mampu demonstrasi, menutup jalan dan menyusahkan orang. Anggapan ini, sekali lagi, salah dan kurang benar. Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia (FISBI) misalnya, mengajukan uji materi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) dikabulkan Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan dimenangannya kaum buruh, maka pekerja outsourching (termasuk kelas menengah kantoran) bisa mengajukan dan berhak menjadi karyawan tetap.

Bisa kah buruh melakukan perubahan Bisa-kah-buruh-melakukan-perubahan-400x266.jpg

Secara individu buruh juga memperjuangkan haknya. Tidak harus beramai ramai ataupun sampai menutup jalan. Seperti Andriyani buruh yang pernah bekerja di PJTKI PT Megahbuana Citramasindo, menang gugatan di MK. Setelah membaca website organisasi buruh, FISBI, ia menggugat sendiri ke pengadilan haknya untuk mendapatkan gaji. Selama 18 bulan ia tidak digaji, setelah perjuangan panjang, akhirnya Andriyani bisa mendapatkan haknya. Anda yang nyinyir pada gerakan buruh, beranikah berjuang sendirian seperti yang dilakukan Andriyani?

Selain mogok dan menggugat melalui MK, buruh juga mengajukan Judicial Review terhadap PP Pengupahan. Anggapan ini sekali lagi mematahkan mitos, anggapan dan stigma bahwa buruh hanya bisa demonstrasi dan nutup jalan. Ini menunjukan bahwa perlahan-lahan buruh sudah menyadari sistem hukum di Indonesia dan memanfaatkan cara-cara lain di luar demonstrasi untuk memperjuangkan haknya. Lalu apakah anda yang mencibir gerakan buruh sudah melakukan ini untuk hak anda?

Tuduhan lain yang agak menyedihkan adalah anggapan bahwa buruh hanya bisa menuntut kenaikan upah namun tak mau peduli dengan sekitarnya. Tetapi ini salah besar. Beberapa buruh perempuan sudah sadar gender, sadar kelas dan memiliki kesadaran politik. Salah satunya kritik terhadap wacana Putri UMK 2015. Acara itu dianggap sebagai eksploitasi terhadap tubuh perempuan. Buruh kini sudah mulai menunjukan pemahaman serius tentang relasi kuasa dalam budaya patriarkis, pemahaman mengenai feminisme dan kesadaran akan tubuh. Sesuatu yang saya ragu kelas menengah pembenci buruh memilikinya.

buruh-400x379.jpg

Di sisi lain adapula gerakan gerakan inisiatif yang memberdayakan buruh. Seperti Radio Marsinah, yang dibentuk untuk para buruh perempuan. Radio ini juga menginisiasi solidaritas kepedulian terhadap kekerasan terhadap perempuan. Para buruh bersolidaritas menyisihkan 100.000 untuk mengadvokasi korban pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan mereka yang ditindas karena jadi perempuan.

Nah kalian yang begitu benci sama buruh sudah ngapain?

Bagian Kedua Salah Paham Tentang Buruh »

Tags:

Arman Dhani
13 Dec 2015


December 2015 | CC BY 4.0