Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Pengetahuan Perempuan dalam Seni dan Budaya di Indonesia



Pada bulan Juni yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri dan berbagi mengenai proyek hibah Cipta Media Ekspresi melalui konferensi “The Worlds of Wikimedia 2019” yang diselenggarakan oleh Wikimedia Australia dan University of Sydney. Acara ini diselenggarakan pada 12-14 Juni 2019 dan mengangkat tema “berkomunikasi dan berkolaborasi lintas bahasa dan budaya”.

Dengan pemilihan tema tersebut, konferensi ini mengundang para pesertanya untuk mempertimbangkan betapa kaya dan bervariasinya segala pengalaman, kebijaksanaan, dan sistem pengetahuan manusia serta bagaimana teknologi digital, terutama yang disokong oleh Wikimedia, dapat dipergunakan untuk mendukung hal ini. Selain itu, dinyatakannya tahun 2019 sebagai Tahun Bahasa Daerah Internasional (International Year of Indigenous Languages) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa juga merupakan suatu momentum untuk merenungkan tidak hanya untuk mendorong bahasa-bahasa daerah yang terancam punah tetapi juga merenungkan seberapa beragam konstruksi konten internet saat ini.

Awal kehadiran internet dipenuhi dengan harapan bahwa media ini pada dasarnya adalah demokratis karena tidak ada halangan bagi siapapun untuk berpartisipasi dan untuk menyuarakan opininya di internet. Begitu juga dengan platform Wikipedia yang diluncurkan di tahun 2001 dimana semua orang dapat bergabung dan menulis artikel. Tidak dipungkiri bahwa fitur inilah yang membuat Wikipedia menjadi besar dan dapat menghasilkan jutaan artikel dalam lebih dari dua ratus bahasa dalam 18 tahun belakangan.

Namun kini, semakin disadari bahwa kesetaraan perlakuan (“semua orang dapat menyunting”) tidak serta-merta menghasilkan kesetaraan kesempatan yang disebabkan adanya ketidaksetaraan dalam hal lain. Contohnya saja, akses terhadap internet di berbagai negara masih jauh berbeda. Ada negara di mana internet cepat adalah hal yang lumrah sedangkan di negara lain akses sangat rendah bahkan dapat dikatakan hampir tidak ada.

Ini merupakan salah satu hal penting yang disampaikan oleh Dr. Martin Dittus dalam pidato utamanya yang membuka keseluruhan rangkaian konferensi. Melalui penelitiannya yang didukung oleh Oxford Internet Institute, salah satu penemuan Martin adalah bahwa artikel-artikel lokal tentang negara-negara di Afrika sebagian besar ditulis oleh orang-orang dari negara-negara di Eropa dan ditulis tidak dengan bahasa lokal.

Pada akhirnya, perspektif mereka yang memiliki privilese inilah yang paling banyak direpresentasikan di internet. Dengan begitu, Internet pun didominasi oleh konten berbahasa Inggris dengan perspektif lelaki Barat.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan dan perspektif yang jauh dari pusat privilese? Bagaimana bahasa, budaya, dan pengetahuan tradisional dan non-Barat dapat terepresentasikan dengan baik di internet? Presentasi-presentasi yang dibawakan pada konferensi ini mencakup topik yang luas terkait metode kolaborasi baru demi inklusivitas di proyek Wikimedia dan di internet.

Kurangnya keragaman pengetahuan di internet, juga di Wikipedia, disebabkan juga oleh perbedaan budaya oral/tulisan dan bagaimana tulisan dianggap lebih unggul dibanding lisan. Karena pengetahuan yang tidak tercatat dalam bentuk buku, artikel jurnal, koran, dan lain sebagainya, maka sulit bagi pengetahuan ini untuk masuk dalam Wikipedia. Salah satu pembicara konferensi, Ingrid Cumming, berusaha memperkaya konten internet dengan konten berbahasa Nyungar dalam proyek yang ia usung, Noongarpedia. Ia mengajak kawan-kawan sesama suku Nyungar untuk menulis di inkubator Wikipedia bahasa Nyungar. Nyungar merupakan bahasa lisan dari salah satu suku aborigin Australia dan tidak ada acuan baku untuk ejaan tertulis bahasa tersebut. Selain itu, karena pengaruh kolonialisme yang tinggi banyak kata-kata bahasa Inggris yang sudah diserap dan banyak digunakan dalam bahasa Nyungar. Usahanya untuk membuat Wikipedia edisi bahasa Nyungar terpaksa gagal karena bahasanya dianggap memiliki terlalu banyak kosa kata bahasa Inggris, walaupun syarat lainnya sudah terpenuhi.

Di kesempatan ini, saya bercerita mengenai Cipta Media Ekspresi dan bagaimana beberapa penerima hibah dari proyek ini berkontribusi dalam mendukung pengetahuan-pengetahuan yang termarjinalisasi untuk dapat didokumentasi dan direpresentasikan di internet.

Karena aturan Wikipedia hanya memperbolehkan untuk mengutip dari tulisan yang telah melewati proses editorial, maka kegiatan dokumentasi dan penulisan buku penerima hibah Cipta Media Ekspresi merupakan tahapan yang penting dalam rangka memperkaya pengetahuan di internet. Misalnya saja Septina Layan yang mendokumentasikan serta menotasikan nyanyian-nyanyian suku Yaghai di Papua Selatan. Apabila sebelumnya tidak ada referensi tertulis mengenai nyanyian suku Yaghai, maka kini buku Septi mengisi kekosongan tersebut. Selain itu, usaha Erni Aladjai untuk kembali ke Banggai dan menemui Nene’ Jaimina (103 tahun) untuk mencatat perawatan tradisional apa saja yang biasanya diberikan atau dilakukan oleh perempuan Banggai pasca melahirkan juga merupakan suatu aksi penting pencatatan pengetahuan lokal. Begitu pun dengan Rhidian Yasminta Wasaraka, melalui penelitiannya terhadap suku Korowai ia membawa perspektif dan cerita yang lain yang selama ini jarang didengar tentang Korowai karena pemberitaannya di media penuh dengan stigma dan stereotip. Buku-buku ini sangat berguna untuk memperkaya konten berbahasa lokal (Indonesia) di internet dan dapat menjadi bahan rujukan penulisan di Wikipedia.

Dengan mendengar masukan dari komunitas, Wikimedia pada tahun yang lalu telah merumuskan arahan strategisnya untuk tahun 2030. Salah satu komitmen Wikimedia hingga tahun 2030 adalah “Keadilan Pengetahuan” atau “Knowledge Equity”. Melalui perumusan strategis ini, diharapkan akan ada perubahan struktural pada Wikimedia yang dapat mengakomodasi kayanya pengetahuan dunia. Hal ini juga akan sejalan dengan visi besar Wikimedia yaitu “dunia di mana semua orang dapat berbagi beragam pengetahuan secara bebas”. Melalui para penerima hibah Cipta Media Ekspresi, gerakan Wikimedia secara global dapat belajar untuk memperluas definisi pengetahuan yang selama ini digunakan. Jika selama ini hanya berpusat pada tradisi Barat dan terfokus pada buku sebagai sumber utama pengetahuan, kita dapat mulai merancang strategi untuk memasukkan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain.

Tags:

Ivonne Kristiani
14 Jul 2019