Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Kegelisahan Warisan Budaya dan Tantangan Kolaborasi Kupang



poster-kupang

Salah satu pendapa kafe Taman Dedari Sikumana disulap menjadi tempat lesehan yang bersuasana akrab. Kafe ini biasa menjadi tempat para pembaca puisi mengadakan acara. Karena itulah tuan rumah, Lanny Koroh, yang juga adalah seorang pegiat sastra dan teater, merasa tempat ini pas untuk jadi tempat sosialisasi hibah Cipta Media Ekspresi (CME).

taman-dedari-sikumana

Pada Sabtu pagi 3 Februari 2018, sekitar 25 perempuan dari Kupang dan sekitarnya hadir untuk berbincang-bincang dengan dua orang anggota juri CME, Lisabona Rahman dan Aleta Ba’un. Acara dimulai dengan pengantar dari Aleta Ba’un mengenai hibah ini sebagai peluang bagi perempuan di NTT dan dilanjutkan penjelasan dari Lisabona tentang latar belakang program ini berikut cara mendaftarkan proyek. Peserta diskusi yang hadir berasal dari berbagai latar belakang: pegiat sastra dan teater, penjahit, pelaku usaha wisata dan pelestari budaya (Beta NTT), pelaku seni audiovisual, pekerja LSM dan peneliti.

Sesudah mendengarkan penjelasan tentang program dan istirahat makan ringan, para peserta diskusi mengusulkan format diskusi yang menarik. Mereka ingin saling mendengarkan gagasan proyek satu sama lain dan mendiskusikannya bersama kedua anggota juri.

perempuan-diskusi-kupang

Diskusi berlangsung hangat, akrab dan menarik karena sesama peserta juga saling memberi masukan atau bertanya untuk menajamkan gagasan.

Dari antara banyak hal menarik yang dibahas pada sesi diskusi, tercetus kegelisahan mengenai ketidaktahuan perempuan generasi saat ini mengenai asal-usul dan makna kain tenun serta keinginan membuat tenun menjadi produk yang lebih kontekstual dan trendy.

Selain itu ada perdebatan yang menarik juga tentang posisi para peserta dalam persoalan lokalisasi pekerja seks. Para peserta yang bekerja di dengan masalah-masalah di sektor ini mengemukakan banyak persoalan yang dihadapi, terutama karena keberadaan lokalisasi di kota Kupang sedang dipermasalahkan. Pekerja seks dalam hal ini posisinya rentan karena mereka juga kebanyakan adalah pendatang. Mereka sendiri merasa bukan pelaku langsung kegiatan seni budaya, sehingga tidak yakin bahwa hibah ini tepat untuk mereka.

Para peserta diskusi menyampaikan pandangan yang sangat beragam. Ada yang mempertanyakan mengapa masih ada perempuan yang bertahan dengan pekerjaan seperti itu. Ada juga yang langsung menawarkan kesempatan kerjasama dengan seniman untuk melakukan kegiatan di wilayah lokalisasi dengan melibatkan langsung pekerja di sana.

Para peserta yang berkegiatan di bidang pariwisata dan kriya menjahit pun menyatakan keinginannya untuk mendaftarkan proyek mereka ke program hibah CME.

perempuan-kupang-cme

Diskusi yang hangat ditutup oleh Aleta Ba’un dengan mengingatkan para peserta yang tertarik mendaftarkan proyeknya untuk merumuskan dengan baik bagaimana inisiatif proyeknya dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bukan hanya untuk diri sendiri. Sementara Lisabona Rahman mendorong peserta untuk membuka pandangannya tentang seni budaya yang lebih inklusif, tidak selalu hanya harus dilakukan oleh seniman saja, justru karya-karya kolaborasi lintas bidang sangat diharapkan muncul dalam hibah ini.

Jadwal lengkap sosialisasi temu muka antara juri/panitia dan calon penerima hibah bisa dilihat di sini.

Tags:



February 2018 | CC BY 4.0