Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Naomi Srikandi : Kekuasaan dan Imajinasi



naomi srikandi

Bergelar Raden Ayu di kartu identitasnya, Naomi berpikir untuk menghilangkan gelarnya, namun sudah kepalang tanggung tidak bisa karena KTP kini tercetak untuk seumur hidup. Bapaknya, WS Rendra (Alm) sudah memesan untuk akta kelahiran agar anak punya nama sendiri, tidak membawa nama orang tua, tidak membawa nama suami, nama anaknya sendiri. Saat membuat akta kelahiran, pesannya dicatat dan akta kelahirannya selamat tanpa gelar, padalah kerabat-kerabat Keraton lainnya menggunakan gelar.

Naomi merasa gelar kebangsawanan merupakan warisan feodal, dan Naomi mengidentikkan dirinya sebagai Anti Feodalisme. Ia tidak mengingkari dilahirkan oleh siapa dan dibesarkan dilingkungan keraton, namun ia merasa feodalisme atau otoritas super selalu menjadi masalah. Almarhum Bapaknya selalu memasukkan derita lingkungan dalam puisinya, dan mengkritik kesenian yang melepaskan derita lingkungan dalam karyanya, seperti renda-renda dan gincu. Sementara Ibunya dari kalangan bangsawan yang senang berkesenian, serta selalu didorong orang tuanya untuk belajar seni, akhirnya mengikuti Bengkel Teater di Patang Buluh dan bertemu dengan bapaknya, karena teater dan keraton posisinya dekat.

Lahir tahun 1975, Naomi kecil mengalami kejadian dimana bapaknya dipenjara tanpa pengadilan di tahun 1979 karena mengkritik pemerintah, dan merasa bahwa profesi seniman itu profesi berbahaya. Pengalaman ini membuatnya belajar bahwa orang yang dipenjara belum tentu penjahat. Ia juga jadi belajar makna kesenian.

Saat menjadi bagian Teater Garasi Universitas Gajah Mada pada tahun 1994, gerakan politik mahasiswa masuk kampus, dan mimbar bebas yang tadinya dilarang melalui NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Bdan Koordinasi Kemahasiswaan 1978-red) dibuka lagi. Teater Garasi tidak hanya membuat teater untuk berekspresi namun juga teater untuk membicarakan keadaan. Untuk Naomi teater menawarkan alternatif cara baca kenyataan yang sedang terjadi pada publik. Teater Garasi menjadi forum terbuka dimana berbagai macam orang lintas forum berkumpul, tidak hanya dari UGM, namun juga UPN, aktivis, fakultas sastra, jamaah musola, rohis, dan Naomi merasa hal ini sangat menarik, apa yang bapaknya lakukan dengan Bengkel Teater saat itu dilakukan oleh Teater Garasi.

Untuk Naomi, dunia tidak berdiri sendiri di tiap titik, manusia adalah bagian koordinat dari peristiwa peristiwa yang lain, kumpulan peristiwa lain. Wacana ekonomi politik di satu tempat, misalnya Indonesia, pantulannya terasa ditempat lain. Pantulan pantulan ini penting diketahui agar manusia memiliki dimensi perspektif yang berbeda tentang kekuasaan, tidak hanya tunggal. Residensinya di pegunungan Kendeng, Rembang membuatnya bertemu dan mengalami langsung keadaan disana, sebelumnya Naomi memiliki kepercayaan kepercayaan yang didapat dari informasi pihak kedua yang menjadi basis pengetahuannya. Residensi membuatnya mampu melihat langsung, dan mengguncang kepercayaan sebelumnya.

Sebagai pekerja seni yang matang, Naomi merasa seluruh karya yang dihasilkan harus memiliki konsekuensi etis terhadap apa yang seorang seniman coba sampaikan terhadap kuasa. Manusia memiliki berbagai isu, sebagai feminis, ia mengulas mengenai aktor Kevin Spacey, bagaiman Kevin Spacey adalah aktor yang ia sukai, namun setelah terangkat bahwa ia melakukan pelecehan seksual, ia tidak bisa netral lagi menikmati akting Kevin Spacey. “Akting Kevin Spacey tidak lepas dari apa yang ia lakukan sehari-hari” Tutur Naomi, ini bukan berarti seniman dalam karyanya dan kehidupan kesehariannya harus sama, namun ada konsekuensi etis dari karyanya. Untuk Naomi, seniman seperti Arundhati Roy adalah inspirasinya, ia tegas dalam karya dan hidupnya karena ia juga aktivis.

Peristiwa-peristiwa yang berpengaruh dalam kehidupan dan karya Naomi adalah peristiwa orang-orang yang dikalahkan oleh kekuasaan yang lebih besar seperti penggusuran, penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga, penghinaan. Ia mencontohkan seperti ditutupnya Pondok Pesantren Al-Fath di Bantul Yogyakarta oleh aparat karena pondok pesantren yang pendiri dan anggotanya waria mendapatkan ancaman dari Front Jihad Islam dan dianggap menodai agama. Kekerasan kekerasan yang juga dialami oleh petani Kendeng yang dizalimi dan dalam proses hukum terus menerus dikalahkan. Penindasan-penindasan seperti itu membuatnya sakit hati, merasa bersalah sebagai orang yang sejak lahir hidupnya mendapatkan keistimewaan.

Seniman memiliki potensi untuk berkelit dari tanggung jawab mengangkat hal ini. Menurut Naomi, semua orang terlahir dengan daya imajinasi, namun kehidupan membunuh kreativitas mereka, tidak semua orang menjadi seniman, atau bisa mempunyai imajinasi tinggi. “Imajinasi saja elit, namun kewenangan menggunakan imajinasi juga bukan isu seniman, apabila kita lihat pemimpin pemimpin dunia. Pemimpin perang seperti Hitler, adalah orang yang memiliki imajinasi tinggi, namun ia menjadi berbahaya karena menjadi penguasa dan dunia imajinasinya adalah dunia yang bisa ia atur seperti apa yang ia mau. Dia hampir berhasil melakukan hal itu. Jadi menurutku kekuatan imajinasi seharusnya ada di orang banyak. Tidak boleh hanya segelintir orang saja. Daya imajinasi lah yang membuat orang bisa kaya, kalau hanya dimiliki segelintir orang, bahaya. Karena itu segelintir orang ini yang kemudian mengatur dunia. Penindasan terjadi karena daya imajinasi tidak dimiliki semua orang. Kekuasaan untuk punya imajinasi untuk menjadi kaya, berkuasa, dan menjadi benar harus dimiliki oleh banyak orang, tidak hanya segelintir saja yang kemudian melakukan penindasan”.

Sumber: Naomi Srikandi. Wawancara oleh Hillun Villay Napis, Jakarta 3 November 2017. Penyunting Siska Doviana

Tags:



November 2017 | CC BY 4.0