Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

137 - ARINI, LEGONG BAPANG DURGA ITU


Nama Inisiator

Cokorda Sawitri

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

17 tahun

Contoh Karya

VID_1516955392617.mp4

Situs Web

Coksawitrisidemen.blogspot.com

Media Sosial

Youtube, Instagram,steller, Facebook

Kategori Proyek

lintasgenerasi

Deskripsi Proyek

Meneliti standarisasi dalam gerak dasar tari Bali yang dialami Ni Ketut Arini (75 tahun), yang sejak usia 5 tahun telah menari, menguasai tari-tari klasik Bali, memiliki ikatan biologis dengan para maestro tari Bali era 1922-1970-an, murid angkatan pertama Kokar, sekolah seni di Bali. Berinteraksi, observasi wawancara sejak bulan Juli 2017, rangkaian interaksi berupa reka ulang Legong Bapang Durga, audio visual, informasi kepustakaan, menggambarkan narasi terjadinya perubahan dalam tari Bali secara menyeluruh pada gerak dasar tari Bali, terjadinya penyeragaman yang tidak disadari, diwariskan melalui sekolah seni dan berbagai sanggar pelatihan tari. Menjadi sebab penurunan kualitas pentas tari juga proses cipta tari Bali masa kini. Terutama pada genre Legong, salah satu tari klasik Bali yang hingga kini dijadikan ‘trade mark’ Bali. Saat sekarang Ketut Arini masih aktiv menari, mengajarkan tari disanggarnya, mengalah pada perubahan gerak dasar tari akibat birokrasi seni di Bali tidak membuka peluang kepada seniman tari di luar sistem untuk memberi informasi pembanding mengenai pengetahuan dasar gerak tari. Arini, secara fakta adalah saksi dan pelaku berkeahlian mengenai ragam gerak tari Bali, yang tidak memiliki kesempatan mengkontiribusikan keahlian pengalamannya disebabkan kompleksitas posisinya sebagai perempuan dalam sistem birokrasi seni dan kultural di Bali.

Latar Belakang Proyek

Apakah peran perempuan dalam pewarisan tari di Bali hanya sebatas sebagai tukang tari dan pelatih tari (?) Pengetahuan keahlian dan pengalaman yang dimiliki Ketut Arini, 75 tahun, walau bergaul dengan dunia seni pertunjukan Bali tanpa henti sejak usia lima tahun, melewati era revolusi kemerdekaan dan hadirnya sekolah seni di Bali, hingga kini tetap menempatkan Arini sebagai narasumber terbatas, tidak dijadikan rujukan pembanding adanya standarisasi gerak dasar dalam tari Bali. Bagaimana caranya menghadirkan pengetahuan keahlian Ketut Arini kepada masyarakat seni (?) Bagaimana caranya menginformasikan terjadinya standarisasi gerak dasar yang mempengaruhi kekayaan ragam gerak tari di Bali dan mempengaruhi keluasan dan kedalaman proses cipta tari Bali masa kini (?) Bagaimana caranya menunjukan contoh gerak dasar tari yang telah hilang akibat standarisasi? Apakah cukup dengan wawancara dan perekaman (?) Karena itu latar belakang Reka Ulang Legong Bapang Durga, salah satu tari Legong yang dalam proses kreativnya melibatkan Arini sejak Balita dijadikan subyek Reka Ulang.

Masalah yang Diangkat

Masalah yang diangkat, seberapa banyak ragam gerak dasar tari Bali yang dapat digali dari ingatan Ketut Arini dengan melakukan reka ulang Legong Bapang Durga. Apakah dalam proses interaksi itu akan juga menjawab mengenai berapa luas terjadinya standarisasi pada gerak dasar tari di Bali yang mempengaruhi karakter dan kemampuan pewarisan tari kepada generasi muda Bali. Adakah pengaruh kurikulum sekolah seni pada hilangnya keragaman gerak dasar tari Bali? Adakah salah satu penyebab pengabaian kepada Ketut Arini disebabkan karena dia perempuan? Baik berhadapan dengan kultural, sejarah maupun system birokrasi seni?

Indikator Sukses

Terjadinya pentas Reka Ulang Legong Bapang Durga sebagai pertunjukan, tidak hanya dalam gerak namun juga musiknya dapat dikembalikan sebagai kekhasan. Adanya Buku mengenai Peran Ketut Arini dengan penyelamatan gerak dasar tari Bali Adanya rekaman audio visual.

Lokasi

Denpasar, Bali

Dana yang Dibutuhkan

Rp.450 Juta

Durasi Proyek

9 bulan