Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

128 - Perempuan Penenun Ulos


Nama Inisiator

SRI LESTARI SAMOSIR

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

Saya adalah pecinta seni dan budaya. Saya mengikuti teater dan berperan sebagai Putri dalam legenda Danau Toba. Saya juga menulis buku dan mengadakan penelitian.

Contoh Karya

KARYA SRI LESTARI SAMOSIR.pdf

Situs Web

srilestarisamosir.wordpress.com

Media Sosial

Instagram: @srylestarisamosir

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Di Desa Hutabarat, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, banyak terdapat pengrajin ulos dan kain songket Tarutung. Rata-rata masyarakat di sini mengandalkan hasil tenunan ulos dan songket untuk meningkatkan perekonomian keluarga mereka. Para penenun ulos di Desa Hutabarat umumnya adalah kaum perempuan. Selesai bertani, disela-sela waktu senggang, kaum perempuan di desa ini pun mulai memental benang menjadi kain ulos dengan kualitas tak diragukan lagi. Namun keberadaan para perempuan luar biasa itu seakan hanya bayang-bayang. Sudah saatnya perjuangan mereka diungkapkan ke khalayak ramai. Mereka harus diberi tempat di mata dunia. Maka dari itu saya ingin melakukan riset mengenai perempuan-perempuan penenun ulos di Sumatera Utara. Mengungkapkan bagaimana mereka merawat peradaban batak dalam selembar kain ulos. Hingga menjabarkan status perempuan batak dalam sosial budaya masyarakat. Hasil akhir dari proyek ini ialah buku hasil laporan penelitian, film dokumenter dan pameran berskala nasional yang mengetengahkan karya-karya perempuan penenun ulos di Sumatera Utara.

Latar Belakang Proyek

Semakin berkurang orang Batak mengenakan Ulos dalam berbagai acara, seperti pesta atau beribadah. Semakin menurun juga minat generasi muda Batak dalam menenun Ulos. Hanya sedikit perempuan Batak yang masih setia sebagai perajin ulos. Itupun usianya sudah tua. Sisanya telah beralih profesi, seperti berkebun, dagang di pasar, berternak, dan sebagainya. Sudah semakin sulit mencari Ulos-ulos maha karya perempuan-perempuan Batak terdahulu, yang dikenal memiliki mutu terbaik, pewarna alam, dengan ragam motif dan makna. Sementara di pasaran sudah banyak beredar Ulos-ulos sablon yang menyerupai aslinya. Pun kehidupan perempuan penenun ulos yang sesungguhnya pahlawan peradaban batak masih belum mendapat apresiasi. Mereka menjadi penenun ulos ditengah tugas domestik rumah tangga. Dapat dikatakan keberadaan para perempuan luar biasa itu seakan hanya bayang-bayang. Sudah saatnya perjuangan mereka diungkapkan ke khalayak ramai. Mereka harus diberi tempat di mata dunia. Rasa cinta pada budaya saya membuat saya tergerak untuk membangkitkan semangat para generasi muda khususnya wanita untuk menghargai warisan leluhur. Saya ingin melakukan sebuah riset tentang bagaimana proses maha karya Ulos itu dibuat. Mengeksplorasi kekayaan ulos dan ketulusan perempuan disetiap tenunan. Mengungkap bagaimana hidup sebagai perempuan batak dalam lingkaran sosial budaya batak. Hemat saya status sebagai penenun ulos harusnya mendapat apresiasi.

Masalah yang Diangkat

Masalah yang saya angkat di sini adalah perempuan dan proses menjaga tradisi. Terkhususnya tradisi menenun ulos Batak dan apresiasi pada para penenunnya. Saya sebagai perempuan batak tidak mau kehilangan para penenun dan karyanya begitu saja. Saya harus membuat sebuah karya dalam bentuk riset yang akan dipublikasikan, film dokumenter, dan pameran agar generasi muda dapat mempelajari warisan budaya leluhur. Hal ini saya sadari karena hilangnya tenunan Batak bukan hanya hilangnya beberapa teknik dan pola tetapi merupakan hilangnya sebuah sistem pemikiran, sejarah budaya dan cara hidup.

Indikator Sukses

Indikator proyek ini sukses adalah ketika berhasil saya melakukan survey penenun. Mengadakan diskusi bulanan dengan para penenun. Mengadakan live in dan menuliskan life history para penenun ulos. Medeskripsikan bagaimana proses ulos dikerjakan hingga menjadi sebuah maha karya. Melakukan advokasi ke pemerintah untuk perlindungan penenun dan keterlibatan mereka dalam pameran local, nasional dan internasional sebagai salah satu promosi untuk tenunan. Jua kesuksesan proyek ini juga terlihat dari terciptanya kesadaran dan aktualisasi serta apresiasi terhadap perempuan penenun ulos melalui beberapa hal. Di antaranya, publikasi berupa buku mengenai riset perempuan penenun ulos yang akan saya tulis sendiri, sebuah film dokumenter, dan pameran berskala nasional.

Lokasi

Tarutung, Sumatera Utara

Dana yang Dibutuhkan

Rp.185 Juta

Durasi Proyek

6 bulan