Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

110 - Merawat Tradisi Mocoan Osing Lintas Generasi


Nama Inisiator

Wiwin Indiarti

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

5 tahun

Contoh Karya

booklet Babad Tawangalun macapat.pdf

Situs Web

https://uniba-bwi.academia.edu/wiwinindiarti

Media Sosial

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan bagian dari usaha preservasi tradisi lisan khususnya seni pembacaan tembang macapat cengkok Osing (mocoan Osing) di Banyuwangi. Naskah yang digunakan sebagai bahan pembacaan tembang macapat adalah Babad Tawangalun, sebuah kronik Blambangan yang menceritakan nenek moyang keluarga para Pangeran dan Masayu (putri) Blambangan yang berkuasa di semenanjung timur Jawa pada rentang abad 17 hingga abad 19. Proyek ini terbagi dalam tiga bentuk kegiatan yang meliputi: 1. Penelitian, yang merupakan kajian atas struktur karya sastra Babad Tawangalun, rekonstruksi dan suntingan naskah berkaitan dengan ketepatan pemakaian paugeran (kaidah) tembang macapat (gatra, guru lagu, dan guru wilangan). 2. Pelatihan mocoan Osing untuk perempuan dan siswa sekolah, dengan menggunakan bahan naskah rekonstruksi Babad Tawangalun hasil penelitian. 3. Pagelaran pembacaan macapat (mocoan Osing) “Perempuan Membaca Babad Tawangalun”. Pagelaran ini melibatkan peserta hasil pelatihan bersama dengan seniman perempuan tradisi lintas generasi di Banyuwangi dan dikolaborasikan antara mocoan Osing, musik, dan gerak/ tari. Musik dan tari merupakan elemen pengiring pembacaan macapat dan secara kolaboratif turut memperkuat tiap fragmen kisah yang didendangkan dalam pagelaran mocoan Osing Babad Tawangalun ini.

Latar Belakang Proyek

Keberadaan seni pembacaan macapat, yang di Banyuwangi dikenal sebagai mocoan Osing, semakin mengalami kemunduran. Jumlah pelaku mocoan Osing di Banyuwangi kian menurun dan sebagian besar pelaku seni mocoan ini telah berusia lanjut di atas 50 tahun dan semuanya laki-laki. Seni mocoan di kalangan orang Osing juga hanya mengacu pada satu naskah saja, yaitu lontar Yusup. Demi memperkaya khasanah naskah mocoan Osing di Banyuwangi, maka saya bersama beberapa seniman dan budayawan di Banyuwangi pada bulan Desember 2017 telah melakukan uji coba awal pembacaan macapat dengan menggunakan naskah yang berbeda, Babad Tawangalun. Naskah yang dibacakan tersebut merupakan hasil rekonstruksi awal naskah induk Babad Tawangalun yang kami kerjakan dan telah disesuaikan dengan aturan metrum tembang macapat yang berlaku, agar bisa dipraktekkan dalam pembacaan tembang. Meskipun demikian, naskah Babad Tawangalun hasil rekonstruksi yang kami kerjakan tersebut masih membutuhkan banyak koreksi dan kajian lebih lanjut untuk penyempurnaannya. Demi memperluas apresiasi mocoan Osing maka dibutuhkan juga pelatihan bagi kaum muda dan perempuan untuk memperluas akses seni mocoan Osing yang lintas generasi dan gender. Naskah Babad Tawangalun hasil rekonstruksi awal saya lampirkan dalam form isian “Contoh Karya” yang diunggah pada pengajuan rancangan proyek ini.

Masalah yang Diangkat

Proyek ini digagas berdasarkan permasalahan riil berkaitan dengan keberadaan seni mocoan Osing yang semakin surut keberlangsungannya dan dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Berbeda dengan seni tradisi lainnya di Banyuwangi yang bersifat profan - baik itu tari, musik, dan seni pertunjukan - seni mocoan Osing lebih bersifat ritual dan hanya berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya semakin menyusut. Di samping itu, pelaku mocoan Osing selama ini seluruhnya adalah laki-laki, padahal sesungguhnya tidak ada larangan adat bagi perempuan untuk mempelajari dan mendaraskan mocoan Osing. Penguasaan seni mocoan Osing yang selama ini hanya terpusat pada lingkaran kaum lelaki telah turut menghambat proses pewarisan seni mocoan Osing. Selain itu, bahan utama yang digunakan untuk mocoan Osing selama ini hanya terbatas pada satu teks saja, yaitu serat Yusup. Padahal Banyuwangi memiliki sumber-sumber naskah lainnya yang berlaras tembang baik itu berbentuk babad maupun kidung. Pengayaan dan variasi teks yang berbeda untuk bahan mocoan Osing tentu akan semakin memperkaya khasanah seni mocoan Osing. Untuk itulah proyek ini dirancang secara menyeluruh sebagai upaya preservasi mocoan Osing yang lintas gender dan pengayaan variasi teks untuk bahan mocoan Osing yang bersumber dari khasanah naskah kuno yang ada di Banyuwangi.

Indikator Sukses

Tercapainya output kegiatan merupakan indikator sukses dan keberhasilan dari proyek ini, yang meliputi: 1. Terbitnya buku hasil penelitian tentang Babad Tawangalun yang berisi kajian sastra atas Babad Tawangalun disertai dengan hasil rekonstruksi dan suntingan naskah Babad Tawangalun untuk pembacaan tembang , terjemahan tembang Babad Tawangalun dalam Bahasa Indonesia, dan notasi tembang Babad Tawangalun. Buku ini sekaligus menjadi bahan untuk pelatihan pembacaan macapat (mocoan Osing) Babad Tawangalun yang disertai modul/ materi pelatihan mocoan Osing yang bisa digunakan secara berkelanjutan. 2. Terselenggaranya pelatihan mocoan Osing Babad Tawangalun, utamanya untuk perempuan, sehingga membuka akses bagi perempuan untuk belajar mocoan Osing dan membentuk kelompok mocoan Osing perempuan di Banyuwangi. Pelatihan mocoan Osing ini menggunakan naskah Babad Tawangalun hasil penelitian dan melibatkan siswa sekolah-sekolah di Banyuwangi sebagai bentuk transmisi seni mocoan Osing lintas generasi. 3. Terselenggaranya pagelaran mocoan Osing “Perempuan Membaca Babad Tawangalun”. Mocoan Osing ini ditampilkan ke publik dengan konsep pertunjukan yang melibatkan peserta hasil pelatihan bersama dengan seniman perempuan tradisi lintas generasi di Banyuwangi dan dikolaborasikan antara mocoan Osing, musik, dan gerak/ tari. Musik dan gerak/ tari merupakan elemen pengiring mocoan Osing dan secara kolaboratif turut memperkuat tiap fragmen kisah yang didendangkan dalam pagelaran mocoan Osing Babad Tawangalun ini.

Lokasi

Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur

Dana yang Dibutuhkan

Rp.300 Juta

Durasi Proyek

8 bulan