Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

98 - Majalah Independen Folksy Magazine


Nama Inisiator

Lucia Berta Diparmawati

Bidang Seni

lainnya

Pengalaman

4 tahun

Contoh Karya

IMG_5852.mp4

Situs Web

folksypress.mysirclo.com

Media Sosial

@folksymagazine

Kategori Proyek

akses

Deskripsi Proyek

Majalah Folksy adalah majalah independen yang mengulas tentang gaya hidup kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Majalah folksy terbit setiap 2 bulan sekali di Yogyakarta, dikerjakan oleh 7 orang sebagai tim inti, dan 5 orang kontributor tetap. Saat ini majalah Folksy telah terbit hingga edisi 14, dan selalu memberikan tema berbeda dalam setiap edisinya. Konten majalah Folksy sebagian besar berupa ilustrasi, drawing, kolase, artikel tentang tips bisnis kreatif, artikel tentang maker/crafter/artisan lokal, creative writing, dan masih banyak lagi. Majalah Folksy bukan sekedar majalah kreatif tetapi juga kami ikut terlibat dalam pergerakan handmade, hal ini bisa dilihat dari kegiatan yang kami adakan seperti: art market, workshop craft, sharing session dengan lokal artisan, demo making, pameran, dll.

Latar Belakang Proyek

Menggeluti pergerakan craft/handmade anak muda di Yogyakarta sejak tahun 2011 dengan membuat acara bazaar handmade bernama Craft Carnival bersama 6 orang teman membuat saya mengenal banyak sekali anak muda kreatif yang perlu diberi ruang untuk mempamerkan karya mereka. Tahun 2014 tercetuslah untuk membuat majalah independen bernama Folksy Magazine. Berangkat dari keinginan memberikan akses untuk anak muda pada umumnya yang suka dengan art dan craft agar memiliki media khusus yang meliput tentang pergerakan mereka. Dalam perjalanannya, keberadaan Folksy Magazine ini akhirnya menjadi satu-satunya media alternatif di Jogja untuk perempuan yang senang untuk berkarya. Konten majalah Folksy sendiri sebenarnya lebih luas dan umum tetapi desain yang colorful, playful, dan cheerful membuatnya terlihat berbeda dengan majalah independen lainnya, belum lagi konten majalah banyak didominasi oleh perempuan, sehingga Folksy secara tidak langsung memiliki pembaca dan kontributor yang 80% adalah perempuan. Dengan tetap adanya majalah Folksy, saya berharap perempuan muda dan wanita dewasa tetap memiliki ruang untuk mereka berkreasi tanpa merasa terdiskriminasikan dengan dominasi laki-laki yang selama ini ada di majalah independen lain.

Masalah yang Diangkat

Tidak bisa dipungkiri bahwa bergerak di media cetak secara independen itu sangat berat, apalagi di jaman sekarang ini yang semuanya sudah sangat dimudahkan dengan media online. Modal untuk tetap menerbitkan majalah adalah kesulitan terbesar kami. Keuntungan dari penjualan tidak bisa menutup semua operasional, apalagi kami juga tidak membuka iklan karena kami ingin konten Folksy tetap terjaga tanpa adanya iklan. Berbagai cara sudah kami lakukan diantaranya menjual merchandise, membuat event, hingga membuka penjualan dengan sistem pre-order, tetapi ternyata kebutuhan untuk mencetak masih belum bisa secara mudah terselesaikan. Saat ini kami berada dalam dilema untuk menutup/tidak lagi menerbitkan majalah atau terus berjuang untuk mengatasinya. Hal yang membuat kami tetap ingin berjuang adalah semangat dari pembaca dan kontributor perempuan yang selalu memberikan dukungan berupa kiriman karya mereka setiap harinya pada kami. Kami telah menjadi ruang bagi mereka untuk mempamerkan karya dan membagikan inspirasi tersebut ke seluruh kota di Indonesia melalui majalah.

Indikator Sukses

Kesuksesan proyek dapat dilihat dari terbitnya 4 edisi baru selama durasi proyek berlangsung, bahkan akan tetap terbit meskipun proyek sudah usai

Lokasi

DI Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.100 Juta

Durasi Proyek

9 bulan