Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

69 - Cerita Perempuan-perempuan Penenun Baduy


Nama Inisiator

Tety Suparti

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

11 tahun

Contoh Karya

Perawan yang Mati di Lumbung Padi_ Uthera Kalimaya.pdf

Situs Web

http://www.utherakalimaya.com

Media Sosial

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek "Cerita Perempuan-perempuan Penenun Baduy" adalah upaya saya untuk mengumpulkan berbagai cerita hidup (life history) para perempuan penenun Baduy. Dalam proses pengumpulan cerita, saya akan tinggal di perkampungan adat Baduy Luar selama 3-4 bulan. Selama tinggal bersama dengan para penenun itu, saya akan ditemani oleh seorang teman perempuan untuk melakukan pengumpulan data. Di sana saya akan melakukan pengamatan, pencatatan, pendokumentasian, wawancara mendalam, dan penulisan cerita nonfiksi berupa karya jurnalisme-sastrawi atau feature, yang hasil akhirnya adalah berupa penerbitan buku. Yang saya maksud dengan cerita adalah kisah hidup, pengalaman, dan pengetahuan, serta kompleksitas dunia perempuan perenenun Baduy. Dari 62 perkampungan di Baduy Luar, paling tidak saya akan menulis cerita tentang 15 perempuan penenun dari 15 perkampungan yang berbeda. Pemilihan para perempuan penenun dan kampung yang akan diceritakan, akan ditentukan oleh akses yang dapat saya tempuh sebab secara geografis perkampungan-perkampungan di Baduy Luar berjarak cukup berjauhan. Maka, ke-15 kampung dengan para penenunnya itu akan dipilih berdasarkan kampung-kampung yang berdekatan satu sama lain. Di akhir proyek, selain akan dilakukan peluncuran buku "Cerita Perempuan-perempuan Penenun Baduy", saya juga akan memamerkan berbagai motif tenun Baduy yang telah dikurasi guna memperkenalkan tenun dan para penenunnya kepada khalayak luas.

Latar Belakang Proyek

Penelitian mengenai masyarakat adat Baduy telah banyak dilakukan, bahkan terlacak dalam laporan-laporan etnografi yang dibuat oleh orang Belanda seperti Hoevell (1845), Jacob dan Meijer (1891), Playte (1909) yang menyebut Baduy dengan badoe'i, badoei, atau badoewi. Namun, hingga penelitian paling mutakhir sebagaimana dilakukan oleh Kurnia dan Sihabudin yang diterbitkan dalam buku "Saatnya Baduy Bicara" (2010), tidak didapati posisi dan peran perempuan-perempuan penenun Baduy. Kebanyakan penelitian yang telah dilakukan oleh laki-laki, lebih banyak menyoroti hukum adat, pikukuh karuhun, dan segala hal yang berkait dengan inti jagat masyarakat adat Baduy hingga terkesan bias gender. Sementara para perempuan Baduy, hampir tidak pernah diceritakan secara memadai. Padahal, para perempuan penenun Baduy memiliki peran yang sangat strategis dalam mewariskan nilai-nilai budaya Baduy kepada generasi penerus melalui simbol dalam motif tenun Baduy. Selain itu, tenun Baduy sebagai material culture yang memiliki makna, baik secara simbolis maupun filosofis, dipandang memiliki keindahan dan kesederhanaan yang khas sehingga menarik minat Amanda Indah Lestari, yang memamerkan rancangan busananya dengan memanfaatkan tenun Baduy dalam perhelatan Paris Fashion Week 2017. Namun, sekali lagi, pengghargaan kita sampai saat ini lebih pada tenun Baduy sebagai suatu komoditas dan cenderung mengabaikan kiprah para penenunnya.

Masalah yang Diangkat

Selama ini, kisah mengenai para perempuan penenun Baduy hampir tidak pernah diketahui publik secara luas. Padahal, sebagai salah satu bagian dari komunitas masyarakat adat yang menjunjung tinggi amanat leluhur (pikukuh karuhun), para perempuan penenun Baduy juga memiliki peran dalam menjaga adat, mengukuhkan identitas, dan mewariskan nilai budaya kepada generasi muda Baduy. Apalagi, para perempuan penenun Baduy telah belajar menenun sejak masih berusia 3 tahun, melalui permainan khas kanak-kanak yang sederhana yang mereka sebut "titinunan". Selain itu, para perempuan penenun Baduy juga memiliki andil yang amat besar dalam memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Namun, hingga kini, kita belum menemukan kisah para perempuan penenun Baduy dengan berbagai problema dan dinamikanya sendiri, yang mesti membagi waktu antara menenun, berladang, dan mengurusi anak. Tak dapat kita temukan bagaimana para perempuan penenun Baduy itu mengatasi masalahnya sendiri, dari mempelajari hingga menguasai kemampuan menenun, dengan tetap berpegang teguh kepada pikukuh karuhun. Untuk itu, proyek penulisan "Cerita Perempuan-perempuan Penenun Baduy" dan pameran tenun Baduy ini merupakan upaya untuk mengisi kekosongan pengetahuan kita mengenai para perempuan penenun Baduy di tengah dominasi pengetahuan kita mengenai inti jagat Baduy yang cenderung menonjolkan peran para lelaki Baduy dan mengabaikan para perempuan Baduy.

Indikator Sukses

Kesukses proyek ini dapat terlihat dari terbitnya buku "Cerita Perempuan-perempuan Penenun Baduy" dan pameran tenun Baduy yang akan dilakukan pada akhir kegiatan.

Lokasi

Banten (Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak)

Dana yang Dibutuhkan

Rp.150 Juta

Durasi Proyek

7 bulan