Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

46 - Oksigen Jawa


Nama Inisiator

Hana Yulianti

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

4 Tahun

Contoh Karya

Everyone Knows Better Than Me.mp4

Situs Web

https://www.youtube.com/watch?v=zD5u4a89_Jw

Media Sosial

-

Kategori Proyek

perjalanan

Deskripsi Proyek

Dalam karya-karya tari tradisi Jawa, dikenal banyak konsep gerak yang mengilhami bahasa koreografinya, antara lain pucang kanginan, mbanyu mili, dan hambabar. Setiap konsep gerak tentunya memiliki makna yang dalam, dan menjadi pengalaman yang nyata saat mempraktikkanya, misalnya dalam karya tari Bedaya. Bedaya memiliki banyak jenis, antara lain Bedaya Pangkur, Bedaya ela-ela, Bedaya Ketawang, dll, dan merupakan tarian tradisi yang sangat populer bagi masyarakat Jawa. Bedaya identik dengan sifat sakral, filosofis dan merupakan identitas kebesaran kerajaan keraton Jawa. Terkait dengan konsep gerak dalam tari bedaya, secara umum bisa dijelaskan sebagai berikut. Konsep gerak banyu mili di tari Bedaya digambarkan pada gerak tari yang halus, mengalir seperti air yang tidak terputus alirannya. Konsep gerak berikutnya yaitu pucang kanginan, yang diibaratkan seperti pohon pinang yang tertiup angin, konsep tersebut digambarkan saat tubuh penari bergoyang ke kanan dan kiri, tertiup namun tidak terbawa pergi oleh angin. Sedangkan konsep hambabar dimaknai sebagai ide yang menggerakkan, yaitu kesadaran atas organ di dalam tubuh penari yang menginisiasi bahasa gerak tubuhnya. Ketiga contoh konsep gerak tersebut menjadi dasar dari konsep karya ini untuk didalami, diterjemahkan dan dipresentasikan dengan kemasan dan bentuk yang baru.

Latar Belakang Proyek

Menari tidak hanya sebuah peristiwa mengulang gerakan atas karya yang sudah jadi. Seperti halnya saat menarikan karya tradisi, jika hanya sekedar mengulang, tentu spirit dari karya tersebut tidak mampu dipancarkan oleh penari. Penonton hanya akan disuguhi pengulangan gerak karya tari tradisi saja. Menurut pengalaman saya, menari sebaiknya mendalami, menghayati konsep geraknya. Hal tersebut muncul ketika kecenderungan menari masa sekarang hanya sebatas ritual mengulang. Kecenderungan tersebut tidak bisa dihindari karena pengaruh arus globalisasi, kondisi tersebut memaksa manusia untuk bertindak cepat dan dikejar keuntungan materi semata. Memang tidak perlu menyalahkan jika fenomena tersebut mendominasi, akan tetapi usaha saya untuk lebih memahami konsep gerak tersebut bertujuan untuk lebih menghidupkan karya yang saya buat. Dalam mencapai tujuan tersebut, saya ingin kembali pada relasi dasar atas eksistensi manusia, alam dan ketuhanan. Ketiga unsur yang tidak terpisahkan tersebut akan saya aplikasikan sebagai semangat atau spirit dalam membangun konsep gerak yang saya sebutkan sebelumnya. Secara lebih sederhana bisa dipahami dengan menghayati eksistensi tiap unsur, misalnya saya sebagai manusia menghayati tubuh saya yang membutuhkan alam untuk kelangsungan hidup, dan Tuhanlah yang menaungi seluruh urusan dari unsur-unsur tersebut.

Masalah yang Diangkat

Bekal untuk membuat karya baru ini adalah dari tubuh saya yang berbahasa kesenian tradisi Banyumasan. Tradisi yang tumbuh dalam kecenderungan masyarakat agraris, keras dan dinamis. Bisa digambarkan dengan tarian Baladewan, tarian yang merupakan bagian dari Lengger ini memiliki gerak yang dinamis, halus-tegas, lembut-gagah, dll. Pengalaman antara menarikan tari Banyumasan dengan Jawa Alus inilah yang saya ramu untuk membebaskan tubuh saya dalam menari. Saat menari Jawa Alus, ada bagian dari ekspresi tubuh saya yang tidak mampu muncul karena mengikuti pakem, namun faktanya tetap bergejolak dalam diri saya. Dari pengalaman menarikan Baladewan, kebebasan antara ekspresi gerak dinamis bisa muncul namun keanggunan sifat keperempuanan yang saya miliki tidak bisa bebas saya lafalkan. Pergulatan tersebut yang ingin saya munculkan dalam karya ini, terfokus pada persoalan saya yang bertubuh perempuan, namun semangat yang saya miliki tidak terbatas dengan wacana menjadi seorang perempuan, yang dituntut selalu anggun, halus, namun juga harus berani, gagah dll.

Indikator Sukses

Karya ini bisa dikatakan sukses ketika berhasil membuat banyak orang bertanya mengenai keseimbangan yang terjadi di masa sekarang baik itu antara sesama manusia , manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. dan orang bisa mulai sadar atau terrefleksi dengan melihat karya ini.

Lokasi

Jawa Tengah, Solo

Dana yang Dibutuhkan

Rp.70 Juta

Durasi Proyek

4 bulan