Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Heidi Arbuckle: Menerobos Kehidupan Melalui Jalur Luar Biasa



heidi arbuckle

Menurut Heidi perempuan adalah kunci untuk menjaga kebhinekaan di Indonesia. Perempuan mengambil berbagai peran yang sangat penting di dalam masyarakat Indonesia, utamanya mereka adalah ibu dan pencipta perdamaian. Sayangnya, peran perempuan justru sangat minor dalam penulisan sejarah di Indonesia. Heidi mengutarakan bahwa ada banyak perempuan Indonesia yang luput dari penulisan sejarah, “Yang dicatat Cut Nyak Dien, Kartini dan beberapa nama lain padahal dalam sejarah Indonesia ada banyak perempuan lain yang tak kalah luar biasa. Saya pikir kita perlu menggali lebih banyak lagi sejarah tentang perempuan-perempuan luar biasa di negeri ini.”

Heidi lahir dari ayah keturuan Skotlandia-Jerman dan berprofesi sebagai aktor. Ayahnya dibesarkan oleh keluarga seniman, neneknya guru musik, sementara ibunya berasal dari keluarga migran Yunani. Mempunyai kuda dan berpartisipasi dalam kompetisi menunggang kuda, Heidi kecil bercita-cita menjadi dokter hewan. Di masa remaja Heidi menghabiskan waktunya dengan banyak membaca dan membayangkan dirinya kelak menjadi wartawan koresponden internasional. Tetapi nasib berkata lain. Pada 1996, ia mengikuti program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS), untuk studi sastra Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saat studi dimulai pada tahun 1997, Heidi mendapati dirinya tenggelam dalam gerakan mahasiswa menentang rezim Orde Baru dan Soeharto. “Tiap hari mau berangkat kuliah semua pada naik bis terus demo, jalur demonya ada di Atmajaya, Sanata Dharma, UGM dan ISI Yogyakarta. Waktu itu saya bawa kamera, saya merekam demo-demo dan ikutan gerakan mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto. Di Australia, nggak ada yang gitu-gitu”. Heidi menjadikan keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto sebagai sebagai tesis honours (S2), dimana Heidi mengambil sudut pandang peran budaya dan kesenian di dalam gerakan mahasiswa’98.

Yang dicatat Cut Nyak Dien, Kartini dan beberapa nama lain padahal dalam sejarah Indonesia ada banyak perempuan lain yang tak kalah luar biasa. Saya pikir kita perlu menggali lebih banyak lagi sejarah tentang perempuan-perempuan luar biasa di negeri ini.

Yogyakarta membentuk Heidi muda menjadi feminis dan aktif secara politik. Selama terlibat di dalam Institut Kebudayaan Taring Padi Heidi menemukan banyak halangan terutama disebabkan karena ia seorang perempuan. Hal ini sebelumnya tidak dia rasakan di Australia. Menjadi perempuan yang sekaligus aktif dalam politik dan berkesenian tidak gampang. Hal ini kemudian memberikan inspirasi bagi Heidi untuk meneliti perempuan-perempuan Indonesia yang “keluar dari jalur”, dan menjadi luar biasa. Ia menyusun tesis doktoral (S3) mengenai Emiria Soenassa, salah satu tokoh perempuan Indonesia yang pada tahun 1920an telah bepergian ke Eropa, pada 1930an kerja di perkebunan dan menjadi pelukis dan pada 1940an terlibat dalam berbagai asosasi politik. Emiria Sunassa adalah politisi, seniman, perawat, pebisnis, yang untuk ukuran perempuan umumnya pada jaman itu tergolong langka. Tidak mudah mencari jejak Emiria Soenassa, tutur Heidi. Selain catatan tertulis tentang Emiria sangat terbatas dan lukisan-lukisannya juga sempat menghilang dan baru ditemukan kemudian 30 tahun setelah ia meninggal dunia.

Sejak tahun 2007 hingga 2017 Heidi bekerja sebagai Program Officer di Ford Foundation Indonesia.

Sumber: Heidi Arbuckle Gultom. Wawancara oleh Hilun Villay Napis, Jakarta, 4 November 2017. Disunting oleh Siska Doviana.

Tags:



December 2017 | CC BY 4.0