Anda berada di mode pratinjau.
| |

Satelit Komunikasi di Indonesia



Wikimedia-Infografis_Design_Info-Satelit-Komunikasi-Milik-Operator-Telekomunikasi-Indonesia-01-1024x717.jpg

Satelit sederhananya adalah benda angkasa yang mengorbit dan mengitari sebuah planet atau bintang. Satelit dibagi atas dua macam: alami dan buatan. Contoh satelit alami adalah bulan (untuk planet bumi) sedangkan satelit buatan adalah Garuda-1 yang diluncurkan oleh Telkom Indonesia. Walaupun demikian, publik umumnya menyebut satelit buatan sebagai ‘satelit’ saja.

Dewasa ini satelit digunakan untuk berbagai jenis tujuan seperti untuk keperluan navigasi, militer, observasi bumi dan geografi, cuaca, riset, dan telekomunikasi. Indonesia adalah salah satu negara yang mengembangkan satelit untuk berbagai tujuan, dan salah satunya adalah untuk perkembangan telekomunkasi. Pada kali ini, penulis menyusun Infografis sebagai upaya menginformasikan kepada publik tentang satelit komunikasi yang telah diorbitkan oleh para operator telekomunikasi dari Indonesia.

Agar bisa mengorbitkan satelit, sebuah operator telekomunikasi harus mendapatkan Izin Stasiun Radio (ISR) yang diterbitkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi. Info mengenai hal tersebut penulis dapatkan dari buku berjudul Alokasi Frekuensi: Kebijakan dan Perencanaan Spektrum Indonesia yang ditulis oleh Denny Setiawan,

Penulis juga menyusun data mengenai sejarah perkembangan satelit komunikasi di Indonesia dari jurnal daring dan laman situs seperti Space Journal Ohio, laman situs Ordasulsel, serta buku Satelit Komunikasi Stasiun Ruang Angkasa.

Untuk melengkapi data dan mencari informasi terbaru terkait perkembangan satelit komunikasi di Indonesia, penulis mengumpulkan data yang diperoleh dari situs surat kabar seperti thejakartapost.com, Selain itu, penulis juga memperoleh data dari Laporan Tahunan Telkom dan Indosat yang terbit di tahun 2014, dan dokumen tersebut bisa diunduh dari situs resminya.

Dalam menyusun infografik ini, seluruh data didapatkan dari literatur yang tersedia di berbagai laman situs. Penulis merasa sangat bersyukur dengan data-data satelit yang ditulis oleh para blogger dan akademisi dari luar seperti situs space.skyrocket.de serta situs spacejournal.ohio.edu. Kedua situs ini sangat membantu dalam meyediakan data dan informasi mengenai satelit dari segi spesifikasi dan perkembangannya. Penulis berharap Indonesia mampu memiliki informasi atau basis data mengenai satelit komunikasi yang ada di negaranya.

Mengenai satelit komunikasi di Indonesia Sejak zaman pemerintahan presiden Soeharto di tahun 1976, Indonesia mulai berinisiatif untuk melibatkan satelit komunikasi untuk pengembangan teknologi komunikasi. Maklum, untuk mengantisipasi laju teknologi komunikasi dan informatika yang semakin meningkat dari kabel ke seluler, pemerintah merasa penggunaan satelit merupakan urgensi. Hal ini karena Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga untuk menjangkau seluruh wilayah, teknologi kabel saja tidak cukup.

Langkah awal pun dimulai dengan menyewa satelit dari luar, lalu membeli satelit dari luar, terakhir merakit sendiri sebuah satelit (bukan jenis komunikasi) tapi dibuat, diawasi, dan diluncurkan dari luar negeri. Hingga di tahun 2016, Indonesia sudah genap 40 tahun mengadaptasi teknologi satelit, tapi belum juga bisa meluncurkan satu pun satelit secara independen.

Setidaknya hingga di tahun 2015 telah terdapat 14 buah satelit komunikasi milik Indonesia yang mengorbit di angkasa. Penulis akan menjabarkan satelit komunikasi apa saja, pembuat dan harganya berdasarkan operator telekomunikasi serta pandangan ke depan mengenai perkembangan teknologi satelit di Indonesia.

Satelit Telkom Indonesia

Pertama adalah sekumpulan satelit seri Palapa yang terdiri dari Palapa A1 dan A2 (1976), B1 (1983), B2 (1984), B2P (atau B3, 1987), B2R (1990), dan B4 (1992). Seluruh Satelit Palapa milik Telkom ini dibuat secara murni dari A sampai Z oleh Boeing Satellite Systems (dahulu namanya Hughes).

Masuk fase selanjutnya di tahun 1999, Telkom mulai meluncurkan armada satelit komunikasi terbaru dengan nama seri satelit “Telkom”. Hanya saja kali ini masing-masing pembuat satelitnya beragam, tidak lagi dipegang oleh satu perusahaan seperti Palapa oleh Boeing Satellite. Satelit-satelit tersebut adalah Telkom-1 yang dibuat oleh Lockheed Martin pada tahun 1999 dengan harga 191,4 juta dolar. Kedua, satelit Telkom-2 yang dibuat oleh Orbital Science Corporation yang dibuat pada tahun 2005 dengan biaya 170 juta dolar. Ketiga yaitu Telkom-3 yang dibuat pada tahun 2012 oleh ISS Reshetnev asal Rusia seharga 1,8 triliun rupiah. Lalu di tahun 2016 Telkom berniat untuk meluncurkan Telkom-3S yang dibuat oleh Thales Alenia Space asal seharga 199,7 juta dolar. Selain itu Telkom juga merencanakan untuk meluncurkan satelit lagi di waktu mendatang (belum pasti) yakni satelit Telkom-4 dengan nilai proyek kira-kira 200 juta dolar.

Satelit Indosat Ooredoo

Tidak kalah dengan Telkom. Indosat Ooredoo juga meluncurkan satelit komunikasi tepat di saat mereka meluncurkan layanan telekomunikasi GSM. Nama seri satelit yang diusung sama dengan Telkom, yakni “Palapa”. Satelit mereka yang pertama kali diluncurkan adalah Palapa C1 dan C2 yang keduanya diluncurkan di tahun 1996 oleh Boeing Satellite. Setelah masa operasi kedua satelit itu berakhir, Indosat meluncurkan satelit Palapa D di tahun 2009. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space dengan biaya sekitar 200 juta dolar.

Kabar terbaru, Indosat berniat untuk meluncurkan satelit Palapa E di tahun 2017 mendatang. Sebenarnya satelit seharga 250 juta dolar ini sudah direncanakan untuk mengorbit di slot 150,5 BT pada tahun 2014. Sayangnya pihak manajemen Indosat saat itu harus berebut dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebuah bank juga ingin mempunya satelit sendiri. Dalam persaingan tersebut Indosat kalah perebutan slot orbit (simak kisahnya di tautan ini).

Satelit Pasifik Satelit Nusantara (PSN)

Selaku satu-satunya perusahaan telepon satelit, Pasifik Satelit Nusantara juga mempunyai beberapa pesawat satelit sendiri. Satelit itu di antaranya adalah Garuda 1 yang dibuat oleh Lockheed Martin di tahun 2000 dengan biaya 757 juta dolar. Kedua adalah satelit M2A yang dibuat oleh Space System/Loral (SSL) di tahun dengan biaya 350 juta dolar. Selanjutnya adalah PSN 5 yang dibuat oleh Aerospatiale di tahun 1998. Terakhir, dan direncanakan untuk mengorbit di tahun 2017 adalah PSN 6 yang dibuat oleh SSL dengan biaya investasi 200 juta dolar.

Refleksi:Perusahaan Satelit Asal Indonesia di Masa Depan?

Melihat informasi di atas, tentu hal ini membuat benak kita teraduk-aduk dan berkontemplasi dalam-dalam. Di satu sisi kita menyesali pemerintah yang masih bergantung pada asing dalam pengembangan satelit. Di sisi lain kita juga harus akui bahwa mengelola atau membuat satelit secara mandiribukanlah perkara mudah. Dari penulusuran info ini penulis sendiri memiliki dua pandangan: pesimis dan optimis.

Penulis merasa pesimis bahwa Indonesia dapat mengelola secara mandiri teknologi satelit karena dua faktor, modal dan sumber daya manusia. Dari segi modal yakni komponen (material) dan pembangunan infrastruktur satelit dan peluncurnya memerlukan dana yang luar biasa mahal juga membutuhkan perawatan yang intensif. Hingga saat ini Indonesia belum memiliki badan usaha yang bergerak di bidang ini, bahkan infrastruktur yang ada sekarang sangat jauh dari mumpuni.

Dari segi sumber daya manusia, Indonesia masih kekurangan pakar di bidang satelit. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah berhasil meluncurkan dua satelit terbaru “buatan” bangsa yakni LAPAN-A1 (2007) dan LAPAN-A2 (2015). Hal ini patut dibanggakan, tapi kita tetap harus menyadari bahwa kedua satelt itu materi komponennya dibeli dari luar negeri, dan dibuat di Jerman (hanya LAPAN-A1, sedangkan LAPAN A2 di Bogor), dan dilatih serta diawasi pembuatannya oleh profesor dari Jerman. Lalu, LAPAN A2 meskipun dibuat di dalam negeri, peluncurannya masih menumpang dengan India. Artinya, Indonesia masih bergantung dengan pihak luar, bahkan hingga di tahun 2015!

Satelit yang dibuat di atas adalah satelit untuk keperluan penginderaan jarak jauh, seperti mengamati cuaca, geografis, lahan pertanian, dan lain-lain. Belum untuk keperluan tingkat itnggi seperti telekomunikasi.

Meski demikian, penulis masih memiliki pandangan positif bahwa mungkin (dan pasti) puluhan tahun lagi Indonesia mampu memiliki infrastruktur lengkap kendaraan antariksa dan membangun perusahaan pembuat satelit sendiri. Langkah para ilmuwan dan teknisi satelit Indonesia perlu didukung oleh pemerintah dan bangsa, karena kehandalan mereka telah terbukti dalam pembuataan satelit LAPAN A2. Berarti Indonesia masih harus meningkatkan potensi teknisi satelit dan mulai berpikir untuk berinvestasi di sektor infrastruktur kendaraan antariksa.

Tags:

Reza Abdul Aziz
6 Jan 2016


January 2016 | CC BY 4.0