Anda berada di mode pratinjau.
| |

Operator CDMA di Indonesia



Wikimedia-Infografis_Design_Operator-CDMA-01-1024x717.jpg

Di Indonesia terdapat beberapa operator telekomunikasi seluler dengan ragam tipe jaringan seperti satelit, AMPS, radio trunking, CDMA, dan GSM. Namun seiring perkembangan teknologi dan bisnis di ranah telekomunikasi seluler, hanya dua jenis jaringan yang operatornya masih beroperasi bahkan mendominasi di pasar telekomunikasi Indonesia: CDMA dan GSM.

Infografis Seputar Operator CDMA dan Rujukannya Infografis di atas bertujuan untuk mendeskripsikan secara visual kepada publik mengenai laju usaha operator berteknologi CDMA di Indonesia. Untuk informasi secara spesifik tentang profil operator telekomunikasi berbasis CDMA, penulis dapatkan dari Laporan Tahunan Smartfren, Indosat, Telkom, dan Bakrie Telecom yang semuanya diterbitkan di tahun 2014. Penulis mendapatkan dokumen tersebut dengan mengunduh dari situs resmi masing-masing operator.

Untuk informasi dinamika bisnis operator CDMA seperti kondisi persaingan harga antara GSM dan CDMA sebagai penyebab lesunya bisnis operator di teknologi ini penulis dapatkan dari laman situs techinasia.com dan harianti.com).

Lalu, penulis juga menemukan bahwa beberapa operator CDMA masih berkembang, hanya saja jaringan yang dipakai bukan lagi CDMA, melainkan telah bermigrasi ke 4G LTE. Informasi tersebut penulis dapatkan dari laman situs berita cnnindonesia.com, dan kompas.com, dan indotelko.com.

Dinamika Bisnis Operator CDMA di Indonesia Jaringan CDMA diadaptasi ke Indonesia di tahun 2003 oleh Telkom Flexi, 7 tahun setelah GSM diadaptasi oleh beberapa operator seluler (1996). Sejak pertama kali muncul hingga di tahun 2005, jaringan komunikasi ini harus menempuh perjuangan keras untuk bisa mengambil simpati pasar di tengah populernya teknologi GSM pada masa itu.

Diketahui bahwa menurut suaramerdeka.com, pada tahun 2004 jumlah seluruh pelanggan CDMA hanya 1,3 juta nomor sementara pelanggan GSM telah menyentuh 27 juta nomor. Jumlah tersebut sudah dihitung dari seluruh pelanggan CDMA seluler maupun telepon tetap nirkabel (fixed wireless access). Maklum,infrastruktur jaringan CDMA pada tahun 2004 masih terus dikembangkan oleh para operator masing-masing, operator CDMA pun terus optimis dan berlomba-lomba untuk meningkatkan kompetensi usahanya.

Usai menggelontorkan dana hingga miliaran rupiah untuk memperkuat infrastruktur CDMA, pelanggan CDMA pun mulai naik secara perlahan meskipun belum bisa melampaui GSM. Operator CDMA pun semakin bertambah yakni Ceria dari Sampoerna Telecommunication Indonesia dan SmartFren. Di samping antusias operator CDMA yang memuncak, sayangnya laju bisnis semakin kurang membaik. Masuk ke tahun 2011 setelah pemerintah menurunkan tarif dan interkoneksi untuk GSM, beberapa operator CDMA Esia, StarOne, dan Flexi kehilangan pelanggan secara signifikan.

Ditenggarai penurunan pelanggan ini karena CDMA banyak diiklankan sebagai “telpon rumah” yang bisa dibawa-bawa. Namun pada prakteknya dengan nomor telpon suntik (penggantian nomor harus dilakukan di gerai operator, tidak seperti GSM dimana kartunya tinggal beli baru dan yang lama dibuang – red) dan keterbatasan wilayah operasional (nomor tidak bisa dibawa bepergian jauh – red) banyak konsumen menganggap bahwa kerepotan teknologi CDMA tidak sebanding saat tarif teknologi GSM turun. Penurunan jumlah pelanggan itu terus berlanjut hingga di tahun 2013. Walhasil, seluruh operator CDMA pun makin merugi dan akhirnnya dua dari 5 operator telekomunikasi, Flexi dan StarOne, memilih gulung tikar.

Setelah diusut, beberapa pihak berpendapat terpuruknya operator CDMA disebabkan oleh tiga faktor: persaingan harga, teknologi yang tak lagi berkembang, dan perangkat (hanset) yang terbatas. Pertama,tercatat di tahun 2008 pemerintah Indonesia menghapus kebijakan yang menyatakan bahwa pembayaran BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi untuk operatori CDMA lebih murah, akibatnya biaya operasional operator CDMA membengkak. Kedua, pengembang CDMA sudah tidak mengembangkan jaringan ini sehingga operator harus bermigrasi ke teknologi generasi ke-4 (4G LTE). Ketiga, perangkat CDMA yang amat terbatas dibandingkan GSM yang semakin mutakhir, sehingga para operator CDMA meluncurkan handset buatan pabrik sendiri, misal Andromax dari Smartfren.

Memahami kondisi bisnis di ranah CDMA yang semakin lesu, beberapa operator tetap bertahan sambil melancarkan berbagai strategi. Salah satunya adalah akuisisi, seperti yang dilakukan Smart Telecom kepada Mobile-8 menjadi Smartfren, kolaborasi seperti yang dilakukan Smartfren dan Esia, dan terakhir serta paling pasti yaitu migrasi jaringan ke 4G LTE. Migrasi jaringan telah dilakukan Smartfren dan Esia. Lalu bagaimana dengan Ceria? Operator ini isunya akan segera bermigrasi, meskipun operator tersebut dikabarkan belum mengajukan proposal untuk migrasi jaringan hingga Desember 2015.

Tags:

Reza Abdul Aziz
28 Dec 2015


December 2015 | CC BY 4.0