Anda berada di mode pratinjau.
| |

Ponsel: Mampukah Mengajak Penonton menjadi Peserta?



Group_of_young_people_texting_on_mobile_phones._10699648676-400x284.jpg

Masalah sulit yang sering dijumpai para aktivis dalam mengubah keadaan adalah menggalang dukungan. Anggaplah satu tahap telah terlewati, yaitu membuat orang banyak jadi tahu masalah yang sedang dihadapi dan perjuangan mengubahnya. Telah ada cukup banyak orang mendengar sekilas, paham, dan malah mengikuti perkembangan keadaan. Kenapa mengajak mereka sulit? Istilah kata, kenapa mengajak “penonton” untuk “turun ke jalan” tidak mudah?

Ada yang berteori bahwa karena orang berpikir dengan asas manfaat dan biaya, maka “penonton” akan berhitung seberapa besar biaya yang dibutuhkan untuk mencapai perubahan yang memberi manfaat tersebut. Mereka berhitung apakah perubahan yang akan dicapai memberi manfaat yang sebanding dengan biaya yang dibutuhkan. Biaya di sini bisa berbentuk waktu, tenaga, pikiran, dan segala beban yang ditanggung untuk mencapai tujuan.

Persoalan menjadi makin sulit saat tujuan yang dicapai besar sehingga perlu melibatkan sangat banyak orang. Di lain sisi, orang banyak tersebut tidak saling mengenal. Tidak ada rantai organisasi atau ketokohan yang mampu menggerakkan orang banyak dengan latar belakang berbeda-beda. Ini keadaan yang cukup sering dijumpai para pegiat yang menggunakan media. Bagaimana mengajak para pengguna media menjadi peserta aksi melalui berbagai media dan piranti?

Kembali ke soal biaya, satu cara yang perlu ditempuh agar orang mau terlibat adalah dengan mengurangi biaya. Kita mulai dari soal peranti. Kalau penggerak aksi memilih peranti ponsel pintar sebagai alat untuk terlibat, maka 8 dari sepuluh orang Indonesia tidak akan ikut karena mereka tidak punya ponsel pintar. Kalau untuk menjadi peserta harus punya ponsel pintar, biaya ini besar kemungkinan terlalu mahal. Mereka yang punya ponsel pintar pun memakai ponsel dengan kemampuan berbeda-beda. Jika untuk terlibat harus membuka situs daring, maka makin besar biaya dan makin sedikit yang bisa “membayar”. Ini dari segi alat.

Dari segi cara terlibat, bila tampilan situs terlalu rumit atau menuntut waktu terlalu panjang atau terlalu sulit dipahami, maka biaya terlibat akan terlalu besar bagi sebagian orang. Apalagi di dunia daring orang cenderung berpindah-pindah situs dan sekilas-sekilas berinteraksi. Sebagai misal, mengisi survei lebih dari 10 menit saja sudah terlalu lama bagi banyak orang. Membuka halaman lebih dari 5 juga bisa jadi sudah terlalu banyak. Ambil contoh situs penggalang petisi change.org. Petisi itu sendiri sudah ditulis orang lain, peserta tinggal menyetujui dan alasan ikut mengirim petisi tidak wajib diisi. Ini sudah mengurangi biaya. Tetapi pengisi masih diminta untuk menulis nama, alamat surel, memilih negara, mengisi kode pos, kemudian mengeklik tombol “tandatangani”. Meski sudah dimudahkan, ada orang-orang (contohnya saya) yang masih tidak mau mengisi. Mengapa? Karena harus memberi data-data pribadi. Bagaimana saya tahu data saya tidak disebar? Meski keterangan tentang ini ada di “ketentuan layanan” dan “kebijakan privasi”, tetapi itu terlalu lama dan sulit bagi saya.

Kedua contoh di atas memperlihatkan bahwa pemilihan alat komunikasi dan cara berinteraksi di dalam alat bisa pasti menimbulkan biaya. Sejak awal pemrakarsa perubahan perlu memikirkan biaya ini. Tentu ada pertimbangan keamanan dan integritas data agar tidak dibanjiri pesan sampah. Di sisi lain, agar biaya menjadi lebih murah, maka peluang terlibat seyogyanya dibuka melalui banyak media untuk banyak kelompok. Dengan menggunakan apa yang telah biasa mereka gunakan, biaya menjadi ringan. Lebih ringan lagi bila calon peserta aksi tidak dipersulit oleh kerumitan navigasi dan tampilan situs atau aplikasi.

Tags:

Kurniawan
7 Apr 2015


April 2015 | CC BY 4.0