Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Keragaman Seni dan Budaya Perempuan di Yogyakarta



poster-yogya

Saat kami tiba di Kedai Kebun Forum di Yogyakarta salah satu panitia lokal Yogya dengan tangkas memanjat tangga berderik dengan roda menuju ketinggian 2,5 meter untuk memasang proyektor yang akan menembak gambar dibelakang pembicara (Juri dan Panitia). Didesain dengan langit langit tinggi dimana sinar matahari menyeruak masuk, kekhawatiran bahwa sinar matahari akan menggagalkan sinar sorot proyektor, tidak terjadi. Gambar terlihat jelas dan luar biasa besar, beruntung, karena konfirmasi kehadiran mencapai 200 peserta dan telah meregangkan kapasitas tempat hingga tepi tepi batasnya. Empat mic turun dari atas ruang pengaturan suara, dua untuk pembicara dan dua untuk pertanyaan dari peserta. Kabel mic melintasi instalasi seni dari besi batang menyerupai sepeda, motor dan dapur, terpasang kokoh di permukaan dinding batako, seakan akan mengingatkan pada yang hadir disana akan kategori hibah Cipta Media Ekspresi: perjalanan dan lintas generasi.

yustina-neni

Dibuka oleh mantan Direktur Yayasan Biennale Jogja, Yustina Neni, sejarah didirikannya Kedai Kebun Forum sebagai tempat untuk pentas dan seni dengan kapasitas kecil menjadi hal yang penting untuk diangkat karena penilaian akan karya seni yang berhasil memiliki ukuran persentase kapasitas penonton di sebuah ruangan. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan untuk seniman pemula atau yang sedang bereksperimen, karena biasanya seniman akan memiliki kesulitan menghadirkan penonton “penuh” dalam ruangan yang terlalu besar. Kedai Kebun Forum mencoba memfasilitasi hal ini dengan ruangan ramah seniman dan penonton yang ‘intim’, sehingga ukuran sukses dapat dicapai saat ruangan sedang memiliki kehadiran yang sedikit dan terasa penuh. Berbicara mengenai kesuksesan, Yustina Neni menyinggung sosialisasi hibah yang akan dibawakan oleh panitia, Siska Doviana, dan dua anggota juri, Naomi Srikandi dan Intan Paramaditha, mengapa hibah ini penting untuk dijajal oleh seniman perempuan di Yogyakarta.

Siska melanjutkan dengan membahas spesifikasi teknis hibah seperti syarat dan ketentuan, formulir daring dan formulir cetak, serta contoh dari permohonan hibah yang telah masuk akan apa yang sebaiknya dicantumkan pada deskripsi proyek, latar belakang, dan masalah yang diangkat. Presentasi panitia dan juri dapat dilihat daring via prezi.

Naomi kemudian mengisi dengan mulai mengulas betapa penting perempuan memikirkan kualitas seni, sebagai juri ia ingin melihat upaya perempuan yang sungguh-sungguh bergulat dengan disiplin medium seninya sekaligus kritis terhadap persoalan lingkungan sekitarnya, sehingga kualitas seninya kuat dan relevan dengan kenyataan sosialnya. Ia menyadari bahwa banyak juga proyek-proyek untuk program sosial ekonomi menggunakan seni sebagai medium, tidak mengindahkan cara kerja medium seni itu sendiri.

Seni merupakan pergulatan kritis seniman, sehingga kualitas seni yang kuat itu pasti dihasilkan dari dua hal: seniman yang terus mengolah medium seninya, dan yang terus berdialektika dengan kenyataan lingkungannya. Kurang salah satunya maka kurang kuat dan relevan karyanya.

Sementara Intan mengingatkan bahwa perempuan yang menjalani hidupnya dengan berkompromi mungkin aman dan nyaman, namun sebenarnya ia bisa berbuat lebih, dan “main aman” ini membuat karyanya menjadi sempit. Para juri juga membahas mengenai kategori dan contoh-contoh proyek yang mungkin didukung berdasarkan kategori. Juri mengingatkan bahwa hibah ini adalah untuk hal-hal dimana ingin dilakukan oleh seniman, namun tidak bisa dilakukan karena berbagai hal, termasuk diantaranya ketiadaan sponsor/ dana. Karena itu untuk pemohon hibah yang bertanya, “Sebaiknya saya melakukan apa?” Hanya karena kebetulan ada kesempatan hibah, mungkin hibah ini tidak tepat untuk mereka.

keragaman-perempuan-yogya

Lebih dari 200 peserta yang menjejali ruangan kemudian mendapat kesempatan untuk bertanya. Terlihat sekali bahwa perempuan pencipta seni dan budaya di Yogya sangat beragam ditilik dari pertanyaan-pertanyaan dan peserta yang datang. Ada yang seniman kuliner yang mengungkapkan bahwa selama ini ia menyulam mie, sebelum dihidangkan, ia ingin tahu apakah apabila dia meminta dana hibah untuk mencoba berbagai mie di nusantara untuk dicoba disulam, bisa atau tidak? Ada pekerja seks yang ingin mementaskan bagaimana pengalaman mereka digusur. Dari kalangan difabel juga bertanya mungkin tidak dana hibah dimintakan untuk membuat pertunjukkan berdasarkan hasil penelitian mereka. Terakhir Direktur Eksekutif Klaten Bineale, Temanku Lima Benua, yang masih berusia 16 tahun bertanya bagaimana ia bisa memohon hibah CME walaupun berusia dibawah umur yang dipersyaratkan. Semua dijawab bisa, kecuali yang terakhir.

Permohonan dibawah umur harus diwakili oleh perempuan lain yang cukup umur secara hukum untuk menerima hibah tunai. Di informasikan juga untuk Warga Negara Asing yang telah malang melintang berupaya memajukan seni dan budaya di Indonesia dengan pengalaman minimal lima tahun bisa mengajukan hibah menggunakan formulir cetak yang dapat diunduh pada tombol formulir di web cipta media.

Acara ditutup menjelang magrib pada pukul 17:30 sore.

Arsip publikasi media sosialisai Yogyakarta:

  1. Tribunnews Yogya: Hibah Rp3,5 M Cipta Media Ekspresi Untuk Perempuan Pencipta Seni dan Budaya Resmi Diluncurkan
  2. Tribunnews Yogya: Hibah Cipta Media Ekspresi Terbuka Untuk WNA Perempuan Pekerja Seni dan Budaya
  3. Solider.id: Wikimedia Indonesia Wujudkan Ide dan Gagasan Perempuan Indonesia
  4. HRC Indonesia: Sosialisasi Hibah Cipta Media Ekspresi bagi Perempuan yang Berkarya
Tags: