Anda berada di mode pratinjau.
| |

Cecil Mariani: Tentang Desain Dana Kehidupan Seniman



cecil mariani

Lahir di Jakarta pada 1978 Cecil memiliki dua jawaban mengenai tanggalnya, “Tanggal lahir atau tanggal akta kelahiran?”. Dikarenakan kekeliruan administrasi, maka Cecil punya dua tanggal, satu untuk perayaan ulang tahun dirumah, dan satu lagi yang digadang gadang di surat resmi. Tidak hanya tanggal yang membingungkan, negaranya pun agak membingungkan. “Kamu orang Indonesia…” Kata orang tuanya, namun menjadi etnis Tionghoa di era Orde Baru adalah Cina yang takut untuk menjadi orang Cina. Dari teman sepermainan di lingkungan kecilnya Ia sering mendapatkan ledekan, “Cina…Cina!”, ketidak konsistenan label identitas di rumah dan di luar rumah ini membingungkan untuk Cecil kecil. Barangkali ini yang membuatnya kemudian tidak terlalu mempedulikan atau mempermasalahkan identitas diri maupun label profesinya di kemudian hari.

Namun ada yang secara konsisten Cecil tidak sukai, yaitu PR (pekerjaan rumah dari sekolah), saking merasa tertindasnya dengan PR ia pernah bercita-cita jadi guru agar hidupnya tak perlu mengerjakan PR. Sejak umur tiga tahun, Cecil menemukan zona amannya dalam menggambar. “Kalau jadi anak kecil, mau ngapainpun dimarahin, tapi kalau nggambar, ngga ada yang marahin.” Jelasnya. Berpartisipasi aktif dalam lomba gambar sejak TK, Cecil senang menggambar keramaian kota, warga, atau meramaikan gambarnya. Waktu kecil ia mengidolakan Astronot Perempuan Indonesia, Pratiwi Sudarmono, “Sebenarnya Pratiwi itu professor biologi molekuler yang bergabung dalam sebuah misi angkasa NASA tahun 1985. Saat itu saya baru mengetahui ada profesi bernama astronot, dan bahwa itu salah satu profesi perempuan di masyarakat, yang pekerjaannya pergi ke angkasa. Angkasa itu imajinasi jelajah manusia yang paling tinggi.” Ujarnya. Setelah dewasa dan belajar desain Cecil terinspirasi oleh desainer, arsitek, dan pengajar, kebangsaan Amerika Serikat, Buckminster Fuller dan penulis kelahiran Austria, Victor Papanek, yang juga pengajar dan desainer. Lewat karya-karya mereka, Fuller “I seem to be a verb” dan Papanek “Design for the Real World” Cecil terpapar oleh pemikiran perihal kerja desain dengan kesadaran kolektif dan cara pendekatan yang sistemik punya daya besar menciptakan transformasi kehidupan. “Sumber daya di dunia ini cukup melimpah untuk kesejahteraan semua jika saja manusia tidak saling berkompetisi mengakumulasi kekayaan untuk kepentingan sendiri dan kelompok,” ujarnya.

Sumber daya di dunia ini cukup melimpah untuk kesejahteraan semua jika saja manusia tidak saling berkompetisi mengakumulasi kekayaan untuk kepentingan sendiri dan kelompok.

Lepas dari SMA ia sesungguhnya ingin mengambil jurusan seni murni, dan ingin menjadi seniman, namun karena dorongan ingin mandiri dan lepas dari ketergantungan terhadap keluarga jauh lebih besar ia memilih pendidikan desain. Desain adalah seni terapan pikirnya, selain ada kerja kantorannya, bidang ini mengolah kebutuhan masyarakat, publik, klien di atas ambisi pribadi. Untuknya karya desain yang dibuatnya untuk orang lain adalah kerja yang mensintesiskan kebutuhan orang dengan pengetahuan dan dengan masyarakat. Kerja ini bukan ekspresi pribadi atau untuk visibilitas pribadi, sehingga ketika ditanya karya yang paling dibanggakan Cecil tidak tahu jawabannya karena ia merasa tak memiliki karya-karya desainnya, Ia juga tidak mengidentifikasikan diri terhadap karya yang ia buat untuk orang lain ataupun profesinya.

Setelah lulus jadi sarjana, dan bekerja menjadi desainer profesional Cecil merasa gerusan kerja dan tengat tanpa henti menghilangkan ruang belajar dan refleksi. Merasa sangat kekurangan ilmu dan ruang berpikir, Cecil merasa perlu melanjutkan sekolah untuk mengembangkan diri, tapi 10 tahun lebih ia gagal mendapat sekolah atau beasiswa, antara tidak cukup cemerlang untuk dibiayai dan atau wawancaranya tidak pernah sukses. Cecil merasa tak pandai bicara atau mengartikulasikan dirinya. Sempat frustasi, karena umurnya makin bertambah, makin jarang skema beasiswa diperbolehkan untuk perempuan diatas umur 30 tahun. Akhirnya ia membuat inisiatif “Tua-Tua Sekolah” (tuatuasekolah.com), ia melihat ada kesenjangan saat itu “Jurusan yang ingin aku ambil itu desain, dan desain ini banyak ditolak beasiswa karena kalau di Amerika dan Eropa, desain adalah salah satu profesi yang komersil, sehingga untuk apa memberikan beasiswa untuk desain?” Frustasi karena ingin belajar saja susah, Cecil memutar otak untuk berjualan supaya bisa mengumpulkan dana untuk sekolah, Ia mencari barang konsumsi yang mungkin dibuat olehnya dan yang tidak sekali beli lantas habis. Karena latar belakangku desain grafis dan biasa berhubungan dengan percetakan, Cecil membuat buku tulis, yang bisa dibeli berulang kali.” Untuk produksi ia menimbang nimbang menghabiskan uang tabungannya, yang merupakan resiko besar. Sehingga ia membuat desain dummy dulu dan menaruhnya di halaman facebooknya, dengan info berjualan untuk membiayai sekolah. Pergi ke percetakan murah, ia ditolak untuk kuantitas 500, percetakan menawarkan kuantitas sebanyak 3000. Protes karena ia tidak punya uang, percetakan meyakinkan dia bahwa boleh dicicil, dan boleh dibayar selama tiga bulan. Ia bertemu dengan Lisa dan Ellen, yang memiliki masalah yang sama. Jejaring jualan buku tulis pun dibuka dari satu perempuan yang ingin sekolah, menjadi tiga perempuan yang ingin sekolah, Lisa dan Ellen membantu menjual dan mengelola upaya penggalangan dana lewat buku-buku ini dan juga melebarkan jalur distribusi. Cecil teringat masa-masa “gila” tersebut, “Harus kerja siang hari, malam sampai pagi harus ngepak-ngepakin buku untuk dikirim atau disiapkan untuk dibawa jualan, setiap akhir pekan jaga lapak..” Banyak yang merespon karena jualan ini tidak hanya jualan, namun untuk sekolah.

Inspirasi Cecil yang tak pernah habis adalah lingkar kawan dan komunitas-komunitas seni budaya yang bekerja dan mendukungnya selama dekade ini yang terasa lebih dekat daripada keluarga. Peristiwa yang penting untuknya adalah saat berhasil berangkat ke New York untuk sekolah. Hal yang terasa begitu mustahil awalnya, dan di minggu pertama ia sekolah terus bertanya tanya tak bisa mencerna, bahwa iya benar ia sedang sekolah lagi setelah bekerja satu dekade. Uang hasil berjualan buku akhirnya memang tidak cukup untuk memenuhi semua biaya sekolah, dan biaya beasiswa dari Pendidikan Tinggi (Dikti) akhirnya didapat. Ia berniat melanjutkan Tuatuasekolah untuk orang lain yang haus belajar.

Cecil pikir profesinya itu bukan identitasnya. Desain hanyalah satu perangkat berpikir di antara perangkat berpikir lainnya yang tak semestinya membingkai sempit pilihan hidup dan realitasnya. Siapapun juga tak selayaknya dikerdilkan maknanya oleh semata label identitas profesi. Untuknya, berpikir desain misalnya dapat digunakan ke berbagai macam aspek kehidupan, yang membuka kemungkinan hidup maupun praktek kerja lain yang lebih manusiawi di masa depan. Imajinasi jalan hidup lain yang melampaui kepemilikan karya, nama, reputasi profesi dan bidang profesi yang dibingkai oleh industri dan pasar tenaga kerja. Bingkai situasi yang jarang kita pertanyakan dan seringkali menjebak pilihan kita.

Ketika ditanya soal karya, Cecil tak yakin ini bisa dianggap sebuah karya atau hipotesa belaka, ia merancang sistem keuangan kolektif yang diharapkan bisa lebih bekerja untuk penghidupan banyak orang di ranah urban. Menurut Cecil orang kini tidak cukup mengkritisi atau membuka imajinasi seputar relasi mereka dengan uang. “Wajar bila sebagai pekerja kita yang sibuk berjuang setengah mati bertahan hidup, tentunya sulit mendapatkan waktu dan ruang berpikir reflektif, kritis apalagi menjelajah imajinasi,” ujarnya. “Banyak pekerja seni tidak mempertanyakan sistem donor dan funding. Mendapatkan akses donor adalah kemewahan jika bukan keberuntungan seperti halnya mendapatkan beasiswa karena perjuangan mereka adalah perjuangan kerja bertahan hidup sambil memaknainya,” lanjutnya.

Cecil merancang sistem keuangan alternatif yang dirancang khusus untuk pelaku seni budaya untuk disertasi S2nya. Pekerja-pekerja pendukung kebudayaan baik pendidik, seniman, aktivis, admin-admin dan relawan yang hanya ada di pinggiran sistem produksi, posisinya paling rentan. Kantong seni budaya pun sebetulnya hanya mendapat “uang receh” dari pasar yang tak adil dan merentankan kehidupan pekerja. Kesenian didanai dengan sedikit dana dari pemerintah atau jumlah yang tak signifikan dari korporasi besar namun punya beban dan tanggung jawab produksi budaya dan pengetahuan yang sangat besar dan berat. Cecil lewat tesisnya mencoba menawarkan sistem alternatif dimana ada pendanaan dari bawah dari dan disirkulasikan untuk pekerja. Sistem ini dinamakan Upacita, sistem yang mirip bentuk koperasi namun ditambahkan terobosan lain, tidak hanya uang. Kekayaan komunitas untuk Cecil bukan hanya pada akumulasi nilai uang bersama, namun juga pada akumulasi pengetahuan, kerja dan kontribusi waktu relawan. Komponen ini tak ternilai dan rentan namun dianggap layak dan sewajarnya dilakukan dan ironisnya disikapi lebih rendah nilainya dari barang dan uang. “Banyak orang yang mau bekerja probono, gratis, sukarelawan, kerja publik - untuk masyarakat, termasuk saya juga, namun jika ditelusur lebih dalam dan secara gambar besar kerja-kerja ini ujungnya justru memperparah eksploitasi pekerja dalam sistem ekonomi berbasis profit dan pertumbuhan angka. Kerja-kerja ini pada akhirnya lebih menguntungkan pemodal besar dan industri komersil yang kelangsungannya ditopang pengembangan pengetahuan dan ruang reproduksi pekerjanya—yang kerja pengembangan ini dilakukan pelaku seni budaya secara ‘gratis’.” Cecil mengkritik lembaga donor yang hanya mendanai program, sementara pekerja umumnya dan praktek seni budaya dibiarkan hidup dalam keadaan tak pasti, mempertaruhkan nasib hari tua dan kesehatan mereka. “Seringkali pekerja seni tidak tahu bagaimana bisa bayar kontrakannya bulan ini atau enggan ke dokter bila sakit atau kelelahan karena tak punya marjin yang lebih untuk kesehatan, dan merasa hal tersebut normal, wajar dan sudah cukup beruntung di negara ini, karena mereka merasa apa yang mereka lakukan sudah cukup berarti, melakukan hal yang kami cintai”. Menurut Cecil prilaku yang “mulia” dan “bermakna” ini justru mesti diarahkan untuk perubahan sistem bukan bekerja dengan uang receh mempertaruhkan jiwa raga untuk menuruti agenda-agenda pemberi dana. Untuk Cecil hal ini lebih darurat untuk segera ditanggulangi dan distrategikan bersama daripada terus menggenjot industri kreatif, mendorong trend start-up ala Amerika tanpa mempedulikan ekosistem yang mendukung kesejahteraan pekerja atau memproduksi makin banyak lagi etalase acara-acara mercu suar kesenian yang ditopang oleh pekerja-pekerja yang hidupnya tanpa sadar kian rentan.

Penyusahan sistemik terjadi saat untuk hidup harus mencukupkan diri dengan sedikit receh pendanaan “program” atau “acara” yang uangnya bukan untuk kesejahteraan hidup penopangnya.

Cecil pikir pekerja kreatif dan pekerja pendukung seni budaya seharusnya berserikat tidak berjuang sendiri-sendiri. Upacita berangkat dari kekhawatirannya dimana pekerja yang berpenghasilan tak menentu ini menaruh sedikit uang mereka di bank, “Oleh Bank dipinjamkan lagi ke pemilik-pemilik modal besar yang tak mau menggunakan uangnya sendiri untuk membiakkan uang lagi dengan membangun Mall, gedung perkantoran mewah dan properti mahal yang tidak terbeli oleh kita-kita”. Protesnya. “Sementara kerja-kerja komunitas seni budaya, akademisi, intelektual, dan aktivis – tentunya masih tidak ada nilai keuntungan riilnya untuk bank.” Untuk Cecil pola ini membuat orang harus bekerja keras untuk bertahan hidup, hasilnya pengetahuan dan produksi budaya semakin terpinggirkan tanpa punya daya. “Penyusahan sistemik terjadi saat untuk hidup harus mencukupkan diri dengan sedikit receh pendanaan “program” atau “acara” yang uangnya bukan untuk kesejahteraan hidup penopangnya.”

Misalnya membuat usaha khas seni budaya, produksi pengetahuan, acara publik, sekolah alternatif atau produksi budaya lain. Bukan untuk membangun mall baru atau apartemen yang kita sendiri tidak mampu untuk sewa apalagi beli.

Adanya bank kolektif/kooperatif/komunitas yang dimiliki bersama dikelola bersama dan dirancang sesuai kerja-kerja khas komunitas dimana ekonomi bisa berputar di antara orang-orang yang bekerja keras untuk tantangan hidup nyata, tidak menyumbang kepentingan spekulan untuk memerah masyarakat. Cecil berharap pengorganisasian ekonomi model Upacita membuat orang yang saling meminjamkan tahu uang digunakan untuk apa, “Misalnya membuat usaha khas seni budaya, produksi pengetahuan, acara publik, sekolah alternatif atau produksi budaya lain. Bukan untuk membangun mall baru atau apartemen yang kita sendiri tidak mampu untuk sewa apalagi beli”. Tambahnya. Ia percaya bersama, hal ini bisa diwujudkan, “Apabila hal ini dibangun oleh komunitas, strategis, terencana dan teroganisir secara finansial, Upacita juga menilai tidak hanya uang, namun juga waktu dan sumbangan ruang dan alat produksi. Sehingga orang yang menjadi relawan atau yang berbagi kepemilikan dan berkontribusi kerja tanpa mendapat uang, ia menabung waktu dan sumber daya bisa kelak menerima andil nilai juga dari bank komunitas dan kelak mendapatkan penghasilan dan dihidupi juga oleh komunitas seiring dengan semakin besarnya sistem ini. Cara ini pun bisa mengubah relasi maupun imajinasi kita terhadap uang, misalnya saya membuat karya, sementara uangnya dari teman-teman sendiri. Nah hal ini pasti memiliki dampak yang berbeda daripada kebiasaan menerima dana sumbangan, karena karya ini akan saya pertanggungjawabkan ke rekan dan komunitas untuk komunitas juga. Pencipta jadi punya tanggung jawab dengan apa yang ia buat. Alternatif macam ini saya pikir perlu dan genting untuk mulai dikerjakan bersama. Detail mekanisme harus lebih canggih dan bisa jadi wujud bank masa depan.” Ujar Cecil.

Sumber: Cecil Mariani. Wawancara oleh Hillun Villay Napis, Jakarta, 4 November 2017. Disunting oleh Siska Doviana.

Tags:



November 2017 | CC BY 4.0